12 Alat Transportasi Laut Tradisional, Gambar dan Penjelasan

Posted on

Alat transportasi laut tradisional, gambar dan penjelasannya merupakan informasi penting untuk disampaikan kepada para pembaca yang budiman. Kita tahu bahwa peran kendaraan laut menjadi bagian dari sejarah umat manusia dalam berkatifitas khsususnya di air, apakah laut, sungai dan danau.

Alat transportasi laut tradisional dari masa ke masa mengalami beberapa perubahan, baik bentuk maupun fungsinya. Hal ini terjadi bersamaan dengan kebutuhan manusia akan efektifitas dalam berkendearan di laut. Usianya pun tidak bisa di ukur oleh waktu. Selama masih dibutuhkan oleh manusia, maka alat transportasi laut akan terus digunakan sampai manusia tidak membutuhkannya lagi.    

Sarana dan prasarana transportasi laut untuk mengangkat benda juga sangat dibutuhkan. Hal ini membantu agar lalu lintas laut menjadi lancar, seperti pelabuhan, tempat peti kemas, perawatan laut dari kejahatan dan lain sebagainya.

Jika dibandingkan dengan alat kendaraan darat tradisional, maka dapat disimpulkan alat transportasi laut tradisional yang akan kami jabarkan ini memiliki yang namanya keunggulan dan kelemahan. Salah satu keunggulannya adalah dilaut tidak mengalami macet, sedangkan kelemahannya, resiko di laut lebih besar ketimbang di darat.      

Kemudian, seiring berjalannya sang waktu, alat transportasi laut yang tradisional akan tergerus dengan hadirnya kendaraan laut yang modern. Dipastikan banyak orang akan memilih yang modern karena lebih banyak kelebihannya, salah duanya: nyaman dan safety.

Di Indonesia sendiri banyak dikenal alat transportasi laut tradisional karena memang negara yang berbasis wilayah kepulauan, ada 17.504 pulau dari Sabang sampai Merauke. Gambarnya bisa dengan mudah Anda temukan di laman Komunikasi Daring melalui sarana alat komunikasi modern yang Anda miliki, apakah gagdet, tablet dan laptop. Pastikan perangkat tersebut terkoneksi dengan jaringan intenet.

Baiklah, tanpa berlama – lama lagi, langsung saja kita bahas satu persatu mengenai apa saja alat transportasi laut tradisional yang pernah ada, baik di Indonesia maupun di dunia. Berikut informasinya.

1. Sampan

Sampan Termasuk Kendaraan Laut Yang Klasik
Sampan via Gatra

Sampan adalah salah satu alat transportasi tradisional air yang banyak digunakan di beberapa wilayah di Asia Tenggara hingga saat ini. Kata Sampan berasal dari bahasa Tionghoa yaitu “sam” yang berarti tiga dan “pan” yang berarti papan. Kata ini digunakan untuk merujuk pada rancangan perahu ini, yang terdiri dari sebuah dasar yang datar (dibuat dari selembar papan) dua lembar papan lainnya dipasang di kedua belah sisinya.

Sampan sendiri sebenarnya adalah sebuah perahu kayu Tiongkok yang memiliki dasar yang relatif datar, dengan ukuran sekitar 3,5 hingga 4,5 meter yang digunakan sebagai alat transportasi sungai dan danau atau menangkap ikan. Sampan dapat mengangkut penumpang 2 – 8 orang, tergantung ukuran sampan. Sampan digerakkan dengan sepotong galah, dayung atau dapat pula dipasangi motor di bagian belakangnya. Ada juga sampan yang memiliki layar sebagai penggeraknya.

2. Rakit/Getek

Alat transportasi Air bernama Getek
Getek via Youtube

Rakit adalah susunan benda yang mengapung dan berbentuk datar untuk perjalanan di atas air dan merupakan rancangan perahu paling dasar yang cirinya tak memiliki lambung. Sebagai gantinya, rakit dijaga mengapung menggunakan gabungan bahan ringan seperti kayu, tong tertutup, maupun ruang air dipompa.

Rakit tradisional ataupun primitif dibuat dari kayu atau bambu. Rakit modern juga menggunakan ponton, drum, atau balok polistirena. Rakit pompaan menggunakan susunan berlapis-lapis yang lebih elastis dan tahan lama. Bergantung pada penggunaan dan ukurannya, rakit bisa memiliki atap, tiang, maupun kemudi.

3. Patorani

Patorani via Kompas

Sejak abad ke-17 masehi perahu ini digunakan oleh orang-orang Makassar untuk memancing guna mencari makanan laut, sebagai transportasi antar jemput manusia, dan untuk perdagangan. Bahkan pada masa kesultanan Gowa perahu ini digunakan sebagai perahu perang.

Nama Patorani memiliki arti penangkap ikan terbang. Perahu nelayan Patorani memiliki lambung jenis pajala dengan pemasangan kemudi ala Makassar dan tiang tripod. Tiang tripod kedua didukung oleh atap geladaknya. Perahu ini membawa galah kayu sebagai bahan untuk memancing dan juga membawa perangkap ikan berbentuk keranjang. Layarrnya biasanya menggunakan layar persegi miring (layar tanja) atau layar lateen.

4. Jukung

Jukung via Tripadvisor

Jukung atau juga dikenal sebagai cadik adalah perahu kecil bercadik kayu dari Indonesia. Pada awalnya jukung digunakan sebagai perahu tradisional nelayan untuk menangkap ikan. Di daerah kalimantan, Orang-orang menggunakan Jukung sebagai alat transportasi dalam kegiatan sehari-hari seperti pergi ke kantor, ke sekolah, atau berbelanja di pasar terapung.

Saat ini ada versi modern Jukung yang terbuat dari pipa High Density Polyethylene (HDPE) di Indonesia. Diiklankan sebagai perahu yang tidak dapat tenggelam, badan utama terbuat dari pipa HDPE tertutup yang mengandung udara tertutup sebagai sumber daya apungnya. 

5. Kora – Kora

Kora – Kora via Malukupost

Kora-kora adalah perahu tradisional Kepulauan Maluku, Indonesia. Perahu ini digunakan untuk perdagangan dan peperangan. Kora-kora yang lebih besar digunakan sebagai kapal perang selama perang dengan Belanda di Kepulauan Banda selama abad ke-17. Sejak zaman dahulu para pengemudi dan pendayung perahu dayung tradisional Maluku ini berteriak ‘Mena Muria’, untuk menyesuaikan tolakan dayung mereka saat ekspedisi di pantai. Ini berarti ‘maju – mundur’, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi ‘Aku pergi – kami mengikuti’ atau ‘satu untuk semua – semua untuk satu’.

Kora-kora memiliki panjang kira-kira 10 meter dan sangat sempit, biasanya terbuka, sangat rendah, dengan berat kira-kira 4 ton. Kendaraan tersebut memiliki cadik bambu sekitar lima kaki (1,5 m) dari setiap sisi, yang mendukung sebuah panggung bambu yang memanjang sepanjang kapal. Di bagian luar duduk dua puluh pendayung (secara keseluruhan dibutuhkan 40 pendayung). Sementara di bagian dalam bisa dilewati dari depan sampai belakang. Bagian tengah perahu ditutupi dengan atap ilalang, di mana ada barang dan penumpang. Deknya tidak lebih dari satu kaki (30 cm) di atas air, karena berat bagian atas dan berat bagian samping yang besar.

6. Golekan Lete

Golekan Lete via Wikipedia

Perahu Golekan adalah jenis perahu tradisional dari Madura, Indonesia. Golekan adalah jenis perahu pribumi, tanpa jejak pengaruh modern dalam bentuk lambung, konstruksi, atau sistem layarnya.Golekan dalam budaya Madura dianggap sebagai “laki-laki”, bahkan disebut sebagai parao laki (perahu laki-laki), sehingga memiliki motif ornamen yang berbeda dari lis-alis dan janggolan (parao bini – perahu perempuan). Simbol utamanya adalah ayam jantan, yang dalam budaya Indonesia dikaitkan dengan pertarungan dan keberanian. Orang-orang madura dahulu berlayar sampai sejauh Singapura, di mana mereka disebut sebagai perahu dagang Madura.

Golekan memiliki linggi tunggal yang besar dan gemuk seperti leti leti, dengan motif gulungan yang dicat hitam. Ia memiliki rumah geladak tanpa kabin kedua di bagian akhir buritan perahu. Biasanya memiliki 2 layar (umumnya layar lete), dengan sokong (tiang penyangga bagian atas) yang didukung oleh galah sementara pada sisi searah dengan angin, atau di kedua sisinya, dengan tali pendukung pada kedua sokong atas. Lambung kapal selalu dicat putih, dengan garis tipis berbagai warna, sedangkan bagian atas tiang akhir serta dekorasi dicat hitam.

7. Sandeq

Sandeq via Tribunnews

Sandeq adalah jenis perahu layar bercadik yang telah lama digunakan melaut oleh nelayan Mandar atau sebagai alat transportasi antar pulau. Nama Sandeq berasal dari bahasa Mandar yang berarti runcing. Perahu ini sangat masyhur sebagai warisan kebudayaan bahari Masyarakat Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Sebelum penggunaan motor (mesin), Sandeq menjadi salah satu alat transportasi antar pulau paling dominan sebab selain licah dan cepat, sandeq juga dapat berlayar melawan arah angin, yaitu dengan teknik berlayar zigzag.

Ukuran Sandeq bervariasi, dengan lebar lambung berkisar antara 0,5 – 1 meter dan panjang 5 – 15 meter, dengan daya angkut mulai dari beberapa ratus kilogram hingga 2 ton lebih, dikiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang,mengandalkan dorongan angin yang ditangkap layar berbentuk segitiga, mampu dipacu hingga kecepatan 15 – 20 Knot atau 30 – 40 Km perjam . Bentuknya yang ramping menjadikannya lebih lincah dan lebih cepat dibandingkan dengan perahu layar lainnya sebab itulah sandeq dikenal sebagai perahu layar yang cantik dan tercepat juga mampu menerjang ombak yang besar sekalipun.

8. Padewakang

Padewakang via Wikipedia

Padewakang adalah perahu tradisional yang digunakan oleh suku Bugis, Mandar, dan orang-orang Makassar dari Sulawesi Selatan. Padewakang digunakan untuk pelayaran jarak jauh oleh kerajaan-kerajaan di Sulawesi selatan. Padewakang adalah kapal Sulawesi Selatan yang terbesar yang berfungsi sebagai kapal dagang dan kapal perang, digunakan selama ratusan tahun yang berlayar di lautan antara Papua Barat, bagian selatan Filipina, dan semenanjung Malaya. Bahkan ada publikasi Belanda tentang padewakang dengan layar terkembang di teluk Persia.

H. Warington Smyth mendeskripsikan sebuah padewakang besar yang terbuat dari kayu giam dengan 2 tiang layar. Dimensinya adalah sebagai berikut: 99 kaki (30,2 m) panjang, 15 kaki (4,6 m) lebar, 12 kaki (3,7 m) kedalaman, dengan lambung bebas air setinggi 6 kaki 3 inci (1,91 m). Kapasitasnya 60 koyan (145 metrik ton), dengan tiang utama setinggi 60 kaki (18,3 m), diawaki oleh 16 orang. Biasanya berbobot antara 20 sampai 50 ton, memiliki satu atau dua tiang dengan layar tanja. Seperti perahu tradisional Nusantara lainnya, ia dikemudikan menggunakan 2 kemudi samping.

9. Pakur

Pakur аdаlаh perahu tradisional khas mandar yang memiliki bentuk perahu gempal уаng bodinya tinggi, tарі panjangnya rata-rata delapan meter. Rata-rata tinggi lambung pakur lebih dari satu meter. Jika melihat ukuran lambung, pakur аdаlаh jenis perahu bercadik yang berukuran besar. Peneliti perahu dari Jepang Prof. Osozawa Katsuya mengaku jenis perahu pakur adalah salah satu bentuk evolusi perahu bercadik yang dibuat orang-orang Austronesia, yaitu penggunaan papan dek sebagai penutup lambung.

10. Pledang

Perahu layar ini digunakan oleh kaum pemburu paus di Nusa Tenggara Timur. Di bagian depan perahu terpasang papan atau bambu sebagai pijakan bagi lemafa (juru tikam) saat meloncat dan menghunjamkan tempuling ke tubuh paus. Di Lamalera, pledang dirakit memakai pasak kayu dan digerakkan dengan dayung. Sementara di Lamakera, pledang lebih modern dengan memakai paku dan mesin tempel.

Dalam satu pledang masing-masing kru mendapat tugas dan sebutan khusus. Pelempar tombak disebut lamafa, tugasnya menghujamkan tempuling (tombak khusus) tepat pada titik lemah ikan paus. Lamafa berdiri dianjungan perahu, dan dibantu oleh seorang asisten yang mengatur pergerakan tali di belakangnya. Pendayung pledang disebut matros atau abk. Sedangkan nahkoda atau yang disebut lama uri duduk di buritan kapal, tugasnya memegang kemudi dan mengendalikan arah pledang.

11. Pencalang

Pada awalnya, kapal jenis ini dibuat oleh orang-orang Melayu, tetapi telah ditiru oleh pembuat kapal Jawa. Pencalang adalah kapal dagang tradisional dari Nusantara. Dalam sejarah ia disebut sebagai pantchiallang atau pantjalang. Pada akhir abad ke-17 kapal ini telah dibangun oleh pembuat kapal Jawa dan China disekitar Rembang. Namun kapal ini adalah pilihan populer untuk nakhoda Bali diikuti oleh nakhoda Sulawesi.

Pencalang memiliki buritan depan dan belakang yang sangat melengkung dan dasar lambung bundar.  Freeboard rendah dinaikkan di tengah kapal melalui sisi kanan. Kapal memiliki balok melintang yang berat dan dek sebagian maupun dek kontinu. Kapal dikemudikan dengan kemudi sisi yang dapat digunakan dengan kait di kedua sisi kapal. Panjang kapal lokal asli adalah 10,7 hingga 16,5 m dengan lebar 3,7 hingga 5,5 m. Draf 1,8 hingga 3,7 m, sedikit lebih besar dari yang dibangun untuk pedagang perorangan.

12. Pinisi

Pinisi via Kompasiana

Pinisi adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu, diperkirakan kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14.

Dalam sejarah, para pelaut Sulawesi dengan kapal pinisi-nya tercatat telah mencapai Pulau  Madagaskar di Afrika. Gelombang pertama terjadi pada abad ke-2 dan 4, gelombang kedua datang pada abad ke-10 dan gelombang terakhir pada abad ke-17 (masa pemerintahan Sriwijaya). Pendatang dari Indonesia tersebut menetap dan mendirikan sebuah kerajaan bernama Merina.

Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang. Umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar pulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunder dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia

Lihat: Alat Musik Tradisional Aceh

Nasib Alat Transportasi Laut Tradisional Di Masa Depan

Prediksi terkait dengan bagaiman manusia akan memperlakukan kendaraan laut yang diangggap tradisional di masa depan ada beberapa hal. Anda bisa menambahkannya lagi di kolom komentar jika mempunyai ide terkait hal tersebut.

1. Di Musnahkan

Sebagaimana yang dilakukan oleh negara maju. Ketika ada produk baru dari perusahaan di rilis ke publik maka mereka akan menghancurkan produk lama yang dinilai sudah ketinggalan zaman. Ini sangat berdampak kepada perputaran ekonomi sebuah negara. Lalu bagaimana dengan negara berkembang yang tergantung dengan impor? Ya, memang tidak bisa disamakan. Bagi negara berkembang, bisa saja ikut memusnakan. Hal ini bisa terjadi ketika daya beli masyarakatnya tinggi. Jika rendah, maka produk tersebut akan terus digunakan sampai kapan mereka mau.

2. Dijadikan Barang Antik

Karena merupakan bagian dari masa lalu, maka alat yang banyak membantu orang di laut ini sebaiknya dijadikan barang antik oleh siapa yang mau. Apakah negara atau warga pribadinya jika mempunyai kelebihan finansial. Perbuatan ini pasti ada yang mau melakukannya. Apalagi bagi mereka yang memang hobinya mengkoleksi sebuah barang antik. Tapi tidak semua kapal atau sampan dijadikan koleksi. Tempat yang ada tidak akan muat.

Nah, proses koleksi armada laut tradisional yang menarik terjadi di Aceh. Pasca Tsunami yang melanda, ada kapal yang nyangkut di atas rumah orang dan kini menjadi destinasi wisata. Banyak orang mengunjunginya, baik turis dari dalam negeri dan luar negeri.

Lihat: Paket Wisata Sabang 2 Hari 1 Malam

Kami rasa cukup sekian dulu informasi mengenai alat transportasi laut tradisional disampaikan kepada pembaca yang budiman. Semoga saja memberikan manfaat bagi kta semua. Sampaikan saran dan kritik Anda pada kolom komentar yang ada di bawah ini. Terima kasih sudah mampir.  

Silahkan berkomentar