Apa yang Terjadi pada Paru-paru saat Terinfeksi Virus Corona?

Posted on

Hingga pertengahan bulan ke-4 2020, pandemi COVID-19 masih belum mereda. Banyak negara terus berusaha menekan jumlah kejadian penyakit kritis COVID-19. Pada saat bersamaan, jumlah orang yang terinfeksi virus corona masih terus meningkat. Jumlah korban COVID-19 yang meninggal maupun yang terinfeksi virus corona pun setiap hari masih bertambah. Maka dari itu, agar kesehatan kita tetap terjamin, kita bisa mendaftarkan diri ke asuransi kesehatan PFI Mega Life.

Di seluruh dunia, jumlah orang yang terinfeksi virus corona sudah melebihi 2 juta jiwa. Angka ini diprediksi masih akan terus bertambah hingga beberapa minggu ke depan. Jumlah korban COVID-19 yang sembuh mencapai lebih dari 500.000 orang, sedangkan jumlah korban meninggal lebih dari 128.000 jiwa.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperlambat penyebaran virus corona di Indonesia adalah dengan memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi COVID-19 sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebarannya.

Suatu wilayah dapat menetapkan kebijakan PSBB bila memenuhi dua kriteria. Pertama, jumlah kasus atau kematian akibat COVID-19 di wilayah tersebut meningkat dan menyebar signifikan dan cepat ke wilayah lain. Kedua, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.

Dikutip dari situs Kompas, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, mengatakan PSBB diberlakukan di daerah-daerah yang sudah menjadi episentrum atau daerah pusat penularan COVID-19, seperti Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota di Provinsi Jawa Barat.

Penularan Virus Corona

Virus corona dapat menyebabkan berbagai penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit yang ditimbulkan infeksi virus corona mulai dari yang ringan seperti batuk-pilek (common cold) hingga berat seperti penyakit pernapasan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). SARS-CoV-2 adalah virus corona yang menyebabkan COVID-19.

Penularan virus corona bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi bila Anda bersentuhan atau berjabat tangan dengan orang yang terinfeksi virus corona. Selain itu, Anda dapat tertular secara langsung bila berdekatan dengan orang yang sudah terinfeksi virus corona, meski tidak bersentuhan langsung dengan orang tersebut.

Saat orang yang terinfeksi virus corona mengeluarkan tetesan cairan dari mulut atau hidungnya (misalnya saat batuk, bersin, atau berbicara) dan tetesan tersebut mengenai wajah atau terhirup, Anda pun terinfeksi. Atau, tetesan tersebut mengenai tangan Anda, yang kemudian menyentuh hidung, mata atau mulut, virus pun berpindah ke tubuh Anda.

Itu sebabnya, penting bagi tiap orang untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain sejauh minimal 1 meter. Ini sesuai anjuran World Health Organization (WHO), untuk mencegah penularan virus corona secara langsung.

Penularan secara tidak langsung terjadi bila Anda menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus dari orang yang terinfeksi virus corona. Kontaminasi terjadi saat orang yang terinfeksi virus corona tanpa sadar mentransfer virus ke benda atau permukaan yang ia pegang. Kemudian benda atau permukaan tersebut dipegang orang lain, termasuk Anda, sehingga menjadi terinfeksi. Risiko ini paling besar terdapat di ruang-ruang publik dan transportasi umum.

Hingga kini, pemerintah belum bisa memastikan kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Karena itu, warga diimbau untuk terus melakukan langkah-langkah perlindungan dari virus corona seperti berikut:

  • Menjaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing) saat berada di luar rumah.
  • Menghindari kerumunan orang.
  • Sebisa mungkin melakukan berbagai kegiatan dari rumah dan tidak keluar rumah bila tidak ada keperluan mendesak.
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun selama minimal 20 detik.
  • Menggunakan masker saat harus ke luar rumah, terutama saat berada di tempat dan transportasi umum. Bagi Anda yang sedang sakit, dianjurkan untuk mengenakan masker saat berada di mana pun.
  • Menutup hidung dan mulut dengan lengan baju atau tisu saat batuk atau bersin.
  • Mengurangi kebiasaan menyentuh wajah, terutama mulut, hidung, dan mata.
  • Tidak berjabat tangan dengan orang lain.

 Cara Virus Corona Masuk ke Dalam Tubuh

Banyak orang mengira virus corona mirip virus flu karena sama-sama menimbulkan penyakit dengan gejala batuk, pilek, dan demam. Walaupun memiliki karakteristik yang mirip, virus corona jauh lebih agresif dibandingkan virus flu.

Cara kerja virus corona sama dengan virus pada umumnya, yaitu masuk ke dalam tubuh dan mencari sel dan jaringan yang akan dijadikan inang untuk membelah diri. Tanpa sel dan jaringan sebagai inang, virus tidak dapat membelah diri.

Tubuh manusia rata-rata memiliki 30 triliun sel. Semua sel itu selalu memperbarui diri saat ada yang rusak. Sel-sel di tubuh manusia memiliki mekanisme dan kekuatan untuk menghadapi musuh, yaitu zat asing yang masuk ke dalam tubuh, salah satunya virus.

Dikarenakan virus corona masuk melalui mulut atau hidung, sel-sel yang akan ditemui pertama kali adalah sel-sel di saluran pernapasan; yaitu yang melapisi tenggorokan dan paru-paru.

Dikutip dari situs BBC, setelah masuk ke dalam saluran pernapasan, virus corona akan menginfeksi sel-sel yang melapisi tenggorokan dan paru-paru. Virus kemudian mengubahnya menjadi “pabrik virus corona” yang menghasilkan virus-virus baru.

Setelah menemukan inang yang cocok, virus corona akan berkembang biak secara cepat. Jumlah virus corona yang makin banyak pun kemudian menginfeksi sel-sel di organ tubuh lain. Sementara itu, paru-paru yang menjadi inang virus lama-kelamaan akan mati dan hancur. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan pada tingkat jaringan hingga kegagalan kerja organ.

Virus Corona Menyerang Paru-Paru

Dalam situs The Conversation dijelaskan WHO menyatakan virus corona menyerang paru-paru dalam tiga fase; yaitu replikasi virus, reaksi berlebih dari sistem kekebalan tubuh, dan rusaknya paru-paru. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi virus corona mengalami ketiga fase tersebut. Sebagian korban COVID-19 diketahui hanya mengalami satu atau dua fase.

Saat virus corona menempel di dinding saluran pernapasan dan paru-paru, sistem kekebalan tubuh akan langsung bereaksi. Caranya adalah mengirimkan sel-sel darah putih untuk mengobati kerusakan, memperbaiki jaringan paru-paru yang rusak, serta membentuk antibodi untuk melawan virus. Ketika proses ini terjadi, tubuh memperlihatkan sejumlah gejala, seperti demam dan batuk.

Awalnya, WHO menyatakan waktu inkubasi virus corona (waktu antara seseorang terpapar virus hingga timbul gejala) adalah antara 2-14 hari. Namun, belakangan waktu inkubasi ditingkatkan menjadi 28 hari.

Gejala yang dirasakan tiap orang yang terinfeksi virus corona Indonesia pun ternyata tidak selalu sama. Ada pasien yang hanya mengalami batuk kering, ada yang diikuti demam, ada yang sampai sesak napas. Bahkan, ada juga orang yang positif COVID-19 tanpa merasakan gejala apa pun.

Bila daya tahan tubuh Anda kuat, tubuh Anda akan berhasil melawan virus corona, gejala yang Anda rasakan akan mereda, dan Anda akan sembuh dengan sendirinya. Namun, orang yang sistem kekebalan tubuhnya bermasalah, seperti memiliki penyakit autoimun, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes, atau berusia lanjut, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita penyakit kritis COVID-19. Gejala demam dan batuk pun terus terjadi.

Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang bermasalah, sel-sel yang dikirim untuk melawan virus akan bereaksi secara berlebihan. Sel-sel tersebut juga dapat membunuh jaringan sel yang sehat. Ini bisa menimbulkan peradangan pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru. Kantong udara yang meradang bisa membuat cairan masuk ke dalam paru-paru. Kondisi ini disebut pneumonia.

Dikutip dari situs Alodokter, kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru (alveoli) pada penderita pneumonia meradang dan dipenuhi cairan atau nanah. Paru-paru yang dipenuhi cairan tersebut kemudian tidak mendapat cukup oksigen untuk mengalirkan darah. Kemampuan tubuh untuk mengambil oksigen dan membuang karbondioksida pun menurun.

Dalam situs Halodoc dijelaskan, pneumonia yang disebabkan virus corona cenderung memengaruhi sebagian besar atau bahkan seluruh paru-paru. Pneumonia akibat virus corona juga dapat menyebabkan kerusakan paru-paru permanen.

Saat kerusakan paru-paru bertambah parah, penderitanya akan mengalami kesulitan dalam bernapas sehingga harus memakai ventilator. Pada sebagian pasien, kesulitan atau kegagalan bernapas ini kemudian berujung pada kematian.

Dikutip dari situs The Conversation, data dari WHO menunjukkan 81 persen pasien COVID-19 mengalami gejala ringan, 14 persen gejala parah, 5 persen sakit parah, dan antara 1-2 persen meninggal dunia.

Lakukan Langkah-langkah Perlindungan Diri

Pandemi COVID-19 memang meresahkan masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Semua pihak berharap penyebaran virus corona Indonesia bisa cepat berakhir dan pasien-pasien yang terinfeksi dapat sembuh.

Walaupun kini Anda melakukan sebagian besar aktivitas dari rumah, risiko untuk terinfeksi virus corona tetap ada. Ini karena terkadang Anda harus keluar rumah untuk membeli bahan makan dan kebutuhan penting lainnya.

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan beban saat terkena penyakit adalah dengan memiliki asuransi kesehatan. Tentu saja, tidak ada orang yang ingin sakit. Di sisi lain, tidak ada orang yang bisa memprediksi kapan dirinya akan sakit.

Karena itu, Anda memerlukan jaring pengaman yang dapat melindungi Anda dari sejumlah risiko, terutama finansial timbul saat Anda tiba-tiba sakit dan harus menjalani pengobatan. Tanpa persiapan yang baik seperti memiliki asuransi kesehatan, kondisi keuangan rutin Anda bisa jadi akan terganggu.

Bila Anda memiliki asuransi kesehatan, semua beban biaya pengobatan tersebut akan ditanggung perusahaan asuransi. Dengan begitu, Anda dapat fokus pada proses penyembuhan dan tidak perlu pusing memikirkan biaya yang harus dibayarkan untuk pengobatan. Manfaat lain dari asuransi adalah Anda akan mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan nyaman, baik saat menjalani rawat jalan maupun rawat inap.

Produk asuransi kesehatan Mega Hospital Investa dari PFI Mega Life memberikan manfaat berupa santunan harian rawat inap karena sakit atau kecelakaan, santunan rawat inap ICU/ICCU, santunan meninggal dunia karena sakit dan kecelakaan, dan pengembalian premi (no claim bonus).

Manfaat yang ditawarkan Mega Hospital Investa dapat dirasakan siapa saja yang berusia mulai dari 6 bulan hingga 59 tahun. Masa perlindungan yang diberikan sendiri dapat Anda rasakan sampai Anda berusia 60 tahun.

Jadi, jangan tunda lebih lama lagi. Segera miliki asuransi kesehatan yang sesuai bagi Anda dan keluarga untuk mendapatkan perlindungan yang maksimal.

Silahkan berkomentar