Bikin Program Komputer tuk Prediksi Kematian Manusia, Dokter di Amerika Kena ‘Skak Mat’ Ilmuwan

Posted on

Manusia sekarang semakin memperlihatkan kegilaannya. Ada Ilmuwan yang sedang mengembangkan program komputer yang dapat memprediksi kematian seseorang.

Meskipun hal tesebut terasa mustahil akan terwujud, namun ilmuwan mengklaim bahwa program komputer itu memiliki tingkat akurasi hingga 90 persen. Program komputer tersebut nantinya bisa digunakan untuk memberikan perawatan seumur hidup kepada pasien rumah sakit.

Seperti JawaPos.com lansir dari laman Mirror, Sabtu (20/1), diketahui sekelompok tim peneliti dari Stanford University di Amerika Serikat (AS) telah mengembangkan program komputer yang bisa memprediksi kapan pasien rumah sakit akan meninggal dengan tingkat akurasi mengerikan.

Mengapa disebut mengerikan? karena membuat Anda menjadi tahu kapan akan mati.

Menurut tim peneliti tersebut, program mereka terbukti benar 90 persen berdasarkan penilitian dan uji coba intensif yang telah dilakukan. Program tersebut akan disediakan untuk mobil ambulan end-of-life yang sesuai untuk pasien rumah sakit dengan penyakit tertentu. Jadi, program tersebut dapat mengetahui seberapa lama Anda mampu bertahan dari potensi kematian.

Program ini menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan dilatih melalui analisis terhadap 160 ribu file pasien dewasa dan anak-anak dari rumah sakit Stanford and Lucile Packard Children. Program tersebut mampu melihat berbagai hal dalam catatan kesehatan seperti diagnosis, prosedur yang telah dilakukan dan obat apa saja yang pernah dikonsumsi pasien.

Anggota Kelompok Laboratorium AI Stanford University, Anand Avati mengatakan bahwa ketika algoritma ini diterapkan pada 40 ribu pasien aktif (diminta untuk memprediksi mana yang akan meninggal dalam tiga sampai dua belas bulan berikutnya), program tersebut dapat meyelesaikan tugasnya dengan baik dengan memberikan prediksi yang 90 persen akurat.

“Skala data yang tersedia memungkinkan kami untuk membangun prediksi model penyebab kematian, bukan penyakit atau spesifik demografis,” jelasnya demikian.

Para periset berencana untuk terus memperbaiki sistem dengan lebih banyak data sebelum diluncurkan ke rumah sakit dan fasilitas medis lainnya.

Namun program yang masih dalam tahap pengembangan lanjutan itu seketika mendapat kecaman dari berbagai pihak. Hal tersebut terkait dengan menyalahi takdir dan kapasitas manusia.

Seorang ilmuwan riset di Stanford University, Kenneth Jung mengatakan bahwa lebih bijaksana bagi para dokter dan staf medis untuk bekerja sebagaimana mestinya. “Seharusnya para pekerja medis fokus bekerja. Kerjakan tugas dan kewajiban sebagaimana mestinya saja. Bukan memercayakan umur manusia kepada algoritma komputer,” jelas Jung.

Dia mengimbau agar dokter tetap dalam tugasnya. Ini tentu akan membuat pembelajaran dokter menjadi lebih bijaksana. “Dari pada Anda secara membabi buta memprediksi kapan dia akan mati, mengintervensi kehendak Tuhan dengan program komputer. Ini gila,” pungkas Jung.

Silahkan berkomentar