Benarkah Jokowi Menang Mudah Berdasarkan Survei Pilpres SMRC?

by

Mantabz.com – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menggelar hasil survei menjelang Pilpres 2019. Sesuai prediksi, Presiden Joko Widodo unggul telak dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Berdasarkan hasil top of mind, Jokowi meraih hasil 38,9%. Ia unggul jauh dari Prabowo, yang duduk di posisi ke-2, dengan persentase 12,0%.

Perlu diketahui, Survei digelar pada 3-10 September 2017 dengan populasi survei adalah WNI yang sudah memiliki hak pilih. Sampel berjumlah 1.220 dan dipilih secara acak (multistage random sampling). Sedangkan margin of error survei sebesar +/- 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%. Quality control dipilih secara acak sebesar 20% dari total sampel.

Seperti dilansir detikcom, Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan menjelaskan, “Bila pemilihan presiden diadakan sekarang (waktu survei, awal September 2017), Jokowi mendapat dukungan terbanyak. Selanjutnya Prabowo Subianto. Dalam jawaban spontan, dukungan untuk Jokowi pada September 2017 ini sebesar 38,9%, dan Prabowo 12%. Nama-nama lain di bawah 2%,”

Berikut 10 besar hasil elektabilitas capres versi survei SMRC:
1. Jokowi 38,9%
2. Prabowo 12,0%
3. Susilo Bambang Yudhoyono 1,6%
4. Anies Baswedan 0,9%
5. Basuki Tjahaja Purnama 0,8%
6. Jusuf Kalla 0,8%
7. Hary Tanoe 0,6%
8. Surya Paloh 0,3%
9. Agus Yudhoyono 0,3%
10. Ridwan Kamil 0,3%

Berdasarkan hasil survei diatas, benarkah Jokowi akan melenggang dengan mudah kembali menduduki RI-1 pada pemilu 2019 mendatang?

Seorang pengamat Canny Watae justru menyatakan sebaliknya. Dengan tingkat elektabilitas Jokowi yang ‘hanya’ 38,9% menjadi warning. Sebagai petahana  seharusnya eletabiltas diatas 50%.

“Lha, Jokowi itu petahana. Kalo petahana itu baru dikatakan ‘aman’ kalau elektabilitasnya di atas 60%,” ujarnya, Jumat (6/10).

“Melihat faktor selisih antara petahana dan calon pesaingnya pun, itu bukan the big thing. Itu bukan sesuatu. Intinya, apakah petahana di atas 60 persen atau tidak,” tegasnya.

“Apalagi, petahana ini petahana berusia 3 tahun jabatan. Tahun ke-4 sudah masuk tahun pertarungan elektabilitas yang sesungguhnya. Waktu yang available sudah sangat mepet untuk dongkrak elektabilitas. Iya kalau punya “modal” yang bisa diputar ke pasar konstituen. Mau cerita listrik 35 ribu MW? Faktanya? Mau cerita pertumbuhan ekonomi? Fakta di lapangan gimana? Mau cerita BBM dan TDL? Lha, apanya yang mau diceritain. Mau cerita “merakyat” karena jalan kaki 3 kilo? Wah, orang nanti pada nanya mana tuh janji atasi kemacetan?” papar Canny lebih rinci.

Publik pun dapat melihat selama hampir tiga tahun ini hanya Jokowi yang banyak tampill, di seluruh media cetak-online-TV, bagi-bagi sepeda, buku, dll, tapi justru elektabilitasnya tergerus jauh dibanding hasil Pilpres 2014 sebesar 53,15%.

Sementara pesaing Jokowi belum melakukan apapun memiliki elektabilitas yang lumayan, bagaimana jika sudah memasuki masa kampanye?

Loading...