JAGO (Jokowi-Gatot), Strategi Hancurkan Elektabilitas Sang Jenderal

by

Mantabz-com – Pertarungan Pilpres memang masih panjang. Tetapi tampaknya pihak-pihak yang terlibat sudah mulai memanaskan ‘mesin perangnya’.

Berbagai manuver sudah banyak dilakukan. Mulai dari merilis hasil lembaga-lembaga survei, mengundang kembali buzzer, hingga upaya-upaya menjatuhkan tokoh yang dianggap potensial untuk menjadi capres/cawapres.

Salah satu tokoh yang dibidik adalah Jenderal Gatot Nurmantyo. Aksinya yang semakin mendapat simpatik publik meresahkan mereka yang berkepentingan dengan Pilpres. Upaya-upaya untuk ‘menggembosi’ elektabilitas Sang Jenderal pun giat dilakukan.

Tak heran, publik pun disuguhkan dengan berita-berita negatif Jenderal Gatot. Melakukan politik praktis, disebut jenderal terburuk hingga sengaja menciptakan kegaduhan politik.

Ini bukanlah tindakan spontan dan sporadis. Tetapi upaya terstruktur untuk menjatuhkan jenderal bintang empat yang akrab dengan berbagai kalangan, terutama dengan ulama.

Salah satu upaya tersebut adalah dengan menggadang-gadangkan Jenderal Gatot dengan Jokowi. Bahkan sudah beredar bentuk dukungan terhadap pasangan ini, JAGO (Jokowi-Gatot). Benarkah demikian?

Ulasan menarik dari @Ronin1948 melalui cuitannya di twitter terkait sepak terjang pihak lawan yang berusaha menggembosi elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo.

Eng Ing Eng… Sedikit mengungkap taktik Projo hancurkan elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo untuk 2019. Sila disimak:

1. Beredar informasi tentang pasangan JAGO (Jokowi-Gatot) 2019-2024. Taktik benamkan elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo 2019.

2. Taktik benamkan elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo untuk 2019, mirip ketika Abraham Samad masuk potensi calon cawapres 2014.

3. Pada 2014, nama Abraham Samad digadang-gadang memiliki elektabilitas cukup tinggi kalau dipasangkan Jokowi pada 2014.

4. Ditambah catatan, Abraham Samad adalah ketua KPK yang berani melawan hegemoni Cikeas. Pasangan pendekar anti korupsi, Jokowi-samad 2014.

5. Namun akhirnya semua hanya jebakan Betmen untuk ‘matikan langkah’ Abraham Samad sebagai calon potensial 2014.

6. Matikan langkah artinya memasukkan dalam kotak tak laku untuk dipakai atau dipilih. Dibuat layu sebelum berkembang.

7. Jokowi – Gatot (JAGO) 2019 -2024 Mirip taktik Jokowi – Samad (2014) Membuat layu sebelum berkembang.

8. Pasangan Jokowi – Samad pada 2014, sangat santer disebut pasangan paling potensial Selain anti korupsi juga menyatukan barat dan timur.

9. Memilih calon presiden dan calon wakil presiden adalah sebuah proses politik panjang melibatkan partai dan hitung-hitungan lain.

10. Membuat deklarasi tuk menggadang-gadang satu pasangan calon disebut calon potensial sebelum waktunya adalah taktik benamkan elektabilitas.

11. Tersebarnya info pasangan JAGO ( Jokowi – Gatot ) untuk 2019-2024 adalah taktik basi untuk benamkan elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo.

12. Membenamkan nama potensi dari Jenderal Gatot Nurmantyo, Untuk masuknya nama calon lain yang sesungguhnya akan dipilih.

13. Nama yang hampir satu bulan ini sedikit ‘terganggu’ oleh potensi besar nama Jenderal Gatot Nurmantyo untuk 2019.

14. Beredarnya nama pasangan JAGO (Jokowi-Gatot) 2019-2024 justru membenamkan elektabilitas nama potensi Jenderal Gatot itu sendiri.

15. Ini sebuah taktik yang sengaja disebar, mirip ketika Abraham Samad disandingkan dengan Jokowi Agendanya membenamkan nama Samad tuk 2014.

16. Didalam politik, taktik membuat layu sebelum berkembang, bagi calon calon berpotensi yang menjadi pesaing adalah sebuah hal yang wajar.

17. Mulai dihitung nama potensi yg akan mjadi pesaing elektabilitas seperti Gatot Nurmantyo, AHY hingga Prabowo. Dibenamkan dgn taktik basi.

18. Ini baru 2017, politik masih panjang. Menggadang-gadang nama Gatot Nurmantyo secepatnya, berarti ada agenda mbuat layu sbelum berkembang.

19. Dalam politik saat ini, harusnya sudah dibiasakan berdemokrasi mencari sosok calon presiden. Bukan mencari sosok untuk dipasangkan.

20. Ditambah, hasil survey belum lama ini, mengatakan bahwa Indonesia butuh calon presiden alternatif diluar yang sudah ada.

21. Masyarakat Indonesia butuh calon presiden alternatif diluar nama Jokowi, megawati, Prabowo, JK dan nama lainnya yg sudah sering muncul.

22. Nama seperti Jenderal Gatot Nurmantyo, Agus Harimurti Yudhoyono hingga Ahmad Heryawan Menjadi nama alternatif yg memiliki potensi.

23. Ada titik dimana masyarakat Indonesia seolah butuh perubahan situasi suksesi politik. Harapan pada calon alternatif potensial.

24. Nama Jenderal Gatot Nurmantyo pun akhirnya masuk salah satu calon alternatif presiden potensial. Ini sdh masuk hitungan harus dibenamkan.

25. Entah, nanti juga akan terjadi hal yang sama kepada AHY, Aher atau Yusril calon alternatif lain yg muncul. Diupayakan untuk dibenamkan.

26. Maka jangan heran, taktik yang sama seperti membenamkan nama samad pada 2014 pun kini terjadi pada sosok Jenderal Gatot Nurmantyo.

27.Menyebarnya pasangan JAGO (Jokowi – Gatot) adalah semata untuk agenda membenamkan elektabilitas Jenderal Gatot Nurmantyo itu sendiri.

Ayo…..Kita kawal Jenderal Gatot Nurmantyo. Jangan biarkan Ia sendiri.

Loading...