Ketinggalan Truk TNI Rombongan, Kapten Tatang Jalan Kaki 3 Hari Lewati Kota Mati

Posted on
Kapten Tatang (viva)

Sebagai salah satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang memiliki kemampuan raider alias penghancur. Kapten Tatang Taryono kerap mendapatkan penugasan di medan-medan operasi militer yang keras dan sangat berbahaya.

Selain pernah ditugaskan ke Aceh, saat negeri Serambi Mekah itu bergejolak karena aktivitas kelompok bersenjata GAM. Pria yang kini menjabat Komandan Komando Rayon Militer (Koramil) 2115/Kemang dari Kodim 0621/Kabupaten Bogor itu ternyata juga pernah dikerahkan dalam operasi keamanan TNI di Timor-timur.

Dalam perbincangan khusus dengan VIVA Militer baru-baru, dilansir Selasa 23 Maret 2021, perwira menengah TNI asli Kabupatan Subang ini masing ingat betul kisah-kisah perjuangan dirinya dan prajurit TNI lainnya dalam mempertahankan Timur-timur agar tetap berada di pangkuan Nusantara.

Kapten TNI Tatang masuk ke Timor-timur pada tahun 1998, ketika itu dia diberangkatkan bersama Batalyon Infanteri Raider 301/Prabu Kian Santang, salah satu pasukan tempur milik Komando Daerah Militer (Kodam) III/ Siliwangi.

Beliau bergabung dengan pasukan Yonif Raider 301/Prabu Kian Santang sebagai prajurit TNI Bawah Kendali Operasi (BKO) Brigade Infanteri (Brigif) 15/Kujang. Dan ini merupakan penugasan operasi militer pertama sejak Kapten Tatang mulai bergabung dengan TNI dua tahun sebelumnya.

Nah singkat cerita, sampailah Kapten Tatang bersama pasukan Yonif Raider 301/PKS di Timor-timur. Situasi di wilayah sangat tak akan aman. Karena pemberontak bersenjata terus melakukan perlawanan dan melancarkan gangguan keamanan terhadap prajurit TNI.

Di suatu hari, ada sebuah kisah unik yang terjadi pada Kapten Tatang. Di penugasan itu, dia ditugaskan di sebuah pos TNI yang lokasinya sangat terpencil. “Saya ditempatkan di pos terpencil sebagai Wakil Komandan Tim dengan anggota 15 orang,” kata Kapten Tatang.

Jadi ketika itu prajurit TNI melakukan pergeseran pasukan. Karena lokasi posnya sangat jauh dari titik kumpul pergeseran pasukan, Kapten Tatang dan pasukannya terlambat dan tertinggal dari kendaraan TNI. “Ketinggalan mobil semuanya, akhirnya melaksanakan jalan kaki tiga hari,” kata beliau.

Akhirnya dengan terpaksa Kapten Tatang dan pasukan mulai bergerak berjalan kaki menyusuri jalanan agar bisa menyusul pasukan yang telah bergerak. Setelah berjalan cukup jauh tibalah di sebuah pos TNI. Sayangnya, pos itu sudah hancur.

“Jalan Kaki dari pos yaitu Mobuko, Natarbora ke Kabupaten Manatuto. Tiga hari dari pagi kita berangkat gitukan, menuju pos yang ternyata posnya sudah terbakar sudah rata. hanya tanggul penahan tembakan, kita tidur di situ, magrib sudah siaga. Pagi masak berangkat lagi, selama tiga hari,” ujar pria yang kini menjadi guru besar ilmu putih tingkat tinggi Laduni di Padepokan Albaathin Alwaliyy.

Kapten Tatang menuturkan, pasukannya tak mungkin lagi berharap ada kendaraan dari TNI yang bakal menjemput mereka. Sebab, saat itu situasi sangat rawan dan berbahaya. “Enggak ada mobil, karena mobil sudah takut semua, karena pada saat itu kan, sudah rawan semua,” kata Kapten Tatang.

Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh selama tiga hari itu, tak satupun manusia mereka jumpai. Sebab wilayah itu sudah benar-benar menjadi kota mati yang ditinggalkan penduduknya mengungsi ke Kota Dili.

“Enggak ada rumah, adapun cuma satu dua, tidak ada kehidupan sama sekali, tidak ada hewan sama sekali anjing pun tidak ada di situ, yang ada yang hidup kita saja dengan nyamuk. Ya menuju ke Dili semua manusianya itu,” ucapnya.

Selama perjalanan itu, Kapten Tatang mengaku sudah pasrah pada nasibnya. Sebab, nyawanya dan pasukannya sudah tak aman lagi dan sewaktu-waktu bisa saja melayang akibat serangan lawan.

“Satu tim ketinggalan jauh, Alhamdulillah tiga hari bisa bergabung melihat rekan-rekan yang sudah menunggu jauh. Satu kompi. luar biasa tiga hari jalan kaki, dengan cara waspada, ketinggian-ketinggian, sudah pasrah kalau ditembak mungkin mati karena di bawah ketinggian kita jalan,” ujarnya.

Kapten Tatang menjalankan operasi keamanan TNI di Timur-timur cukup lama. Dia berada di sana dari sebelum jajak pendapat hingga negeri ini menyatakan merdeka sebagai sebuah negara yang kini bernama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Perlu diketahui, Kapten Tatang mulai meniti karier militer di TNI pada 1996 melalui jalur Sekolah Calon Bintara (Secaba) TNI Angkatan Darat. Dan langsung ditempatkan di Brigif 15/Kujang.

Selama di Brigif 15/Kujang, Kapten Tatang beberapa kali di BKO untuk terlibat dalam berbagai operasi. Seperti BKO ke Yonif 315/Garuda alias Pasukan Setan untuk operasi di Aceh.

Lalu pernah bertugas sebagai pelatih raider di Batalyon Infanteri (Yonif) 327/Brajawijaya yang sekarang bernama Batalyon Infanteri Raider 300/Raider Brajawijaya.

Pada 2007 beliau berhasil lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI dengan pangkat Letnan Dua (Letda) dan dipercaya jadi komandan peleton di Yonif 315/Garuda.

Lalu pindah untuk menjabat sebagai Komandan Koramil 2101/Sukaraja, Kodim 0621/Kabupaten Bogor. Dan kemudian menjabat Kepala Seksi Logistik di Kodim 0621/Kabupaten Bogor, hingga akhirnya pada 2019 dipercaya menjabat Danramil) 2115/Kemang, Kodim 0621/Kabupaten Bogor.

Dan saat ini Kapten Tatang dikerahkan untuk memperkuat operasi Satuan Tugas Aparat Teritorial (Satgas Apter) 2020. Beliau saat ini menjalankan tugas di Kaimana, Papua Barat. (viva)

Silahkan berkomentar