12 Rumah Adat Daerah Jawa Tengah, Gambar dan Penjelasan

Posted on

Rumah adat khas Jawa Tengah disertai dengan gambar dan penjelasan adalah informasi yang menarik untuk diketahui oleh warga Indonesia khususnya. Sarat dengan nilai filosofi yang dalam, rumah adat tersebut adalah warisan yang harus dilestarikan oleh generasi saat ini sampai generasi seterusnya.

Mengenal satu persatu rumah adat Jawa Tengah bisa dengan bannyak cara, salah satunya cara yang peling banyak dipakai adalah melalui alat komunikasi canggih (internet). Mereka yang mencari melalaui baca buku rasanya sudah mulai langka jumlahnya. Alasannya, mencari lewat komunikasi daring lebih cepat sehingga waktunya lebih efisien.

Ada rumah adat Jawa Tengah yang masih orisinil dan ada pula yang sudah direnovasi secara modern oleh masyarakatnya sendiri. Alasannya karena bahan baku untuk membuatnya sudah mulai langka. Alasan lain karena masalah selera manusia sekarang yang sudah terkontaminasi dengan perubahan zaman. Tentu saja merubahnya menjadi modern tanpa menghilangkan nilai – nilai filosofi tiada yang melarang. Justru ini sangat dianjurkan.

Bagi kamu yang sedang mencari informasi tentang rumah tradisional di Jawa Tengah, inilah kesempatan terbaik Anda. Selain bisa membaca, Anda juga bisa memberikan koreksi jika ada penyampaikan yang kurang tepat. Atau Anda punya referensi lain yang lebih valid.

Pastinya ada perbedaannya dengan rumah adat Sumatera Utara, rumah adat Sulawesi Tenggara dan rumah Adat Kalimantan Barat. Anda dipersilahkan untuk membaca untuk perbandingan.

Berikut ini adalah nama – nama rumah adat Jawa Tengah dan penjelasannya yang penting untuk diketahui.

1. Rumah Limasan

Rumah Limasan (99.co)

Dikenal sebagai rumah tradisional Jawa Tengah, rumah adat Limasan terdiri atas 8 (delapan) tiang utama. Adapaun pembagian dari rumah ini adalah rumah induk dan rumah tambahan. Rumah induk berbeda fungsi dengan rumah tambahan. Biasanya rumah induk digunakan untuk hajatan yang sifatnya banyak orang.

Disebut tradisional karena rumah adat khas Jawa Tengah ini dibangun dengan elemen – elemen pendukung natural (alami) dan tidak adanya bahan – bahan modern dalam pembuatannya.

Memiliki model rumah yang tinggi sehingga berguna untuk meredam gempa. Kemudian, desain ruangan yang cukup luas membuat banyak kegiatan bisa dilakukan di rumah adat Limasan ini.

2. Rumah Joglo

Rumah Joglo (Blogger)

Joglo merupakan rumah tradisional masyarakat Jawa Tengah yang terdiri atas 4 (empat) tiang utama. Ruangan pada rumah adat Joglo dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:

2.1. Ruangan pertemuan yang disebut pendhapa

Pertemuan bersifat resmi dan tidak bisa berlangsung diruangan ini. Misal acara rapat, acara upacara adat Jawa Tengah dan acara lainnya.

2.2. Ruang tengah atau ruang  pringgitan

Berfungsi untuk menerima tamu yang datang dari daerah lain, diluar wilayah Jawa Tengah. Dalam menyambut tamu, biasanya masyarakat setempat menggelar berbagai acara, salah satunya pagelaran tarian tradisional Jawa Tengah.

2.3. Ruang belakang yang disebut dalem atau ruang keluarga

Berguna untuk berkumpulnya para keluarga melakukan berbagai aktifitas, seperti makan bersama, belajar, dan kegiatan lainnya. Bagi budaya Jawa, kegiatan makan bersama keluarga merupakan kebiasaan yang sering dilakukan.

Kini, sudah terjadi improvisasi terhadap rumah Joglo. Hal ini disebabkan selera dari tuan rumahnya sendiri. Perubahan tersebut sudah mengarah kepada arsitek yang bernilai modern meski tidak meninggalkan nilai – nilai filosofi yang terkandung.

3. Rumah Mangkurat

Rumah Mangkurat (Joglolimasan)

Rumah adat ini ciri khasnya terlihat pada atapnya. Dimana pada atapnya bersusun tiga sudut kemiringan dengan perbedaan batas antara masing – masing sudut yang biasanya dibatasi dan atapnya lebih tinggi dari pada jenis rumah Joglo yang lain. Tampak menjulang dan bagiannya lebih besar.

4. Pangrawit

Pangrawit (joglolimasan)

Berguna sebagai tempat berkumpulnya keluarga dan masyarakat Jawa, pada tiap sudut bangunan rumah adat Pangrawit mempunya tiang penyangga dengan atap yang menjulang. Pada bagian atap ada lambing gantung dan luasnya dalam kategori sedang namun halamannya termasuk luas.

5. Rumah Hageng

Arti dari Hageng bahasa Indonesia adalah berarti Besar. Dengan begitu arti dari Rumah Joglo Hageng jika diartikan menjadi Rumah Joglo Yang Besar. Ya, dibandingkan dengan rumah joglo yang lain, Hageng lebih besar dari pada Pangrawit.

Kabarnya tidak semua orang Jawa bisa memiliki rumah Hageng. Mereka yang bergelr sebagai pengusaha sukses sajalah yang bisa memilikinya. Selain itu, biasanya seorang bangsawan yang pakaian adat Jawa Tengah dikenakan tidak umum digunakan masyarakat lain.

Selain lebih besar, hal yang membuat beda dengan rumah adat Jawa yang lain, yaitu tampak pada atapnya yang lebih pendek sekaligus tumpul tanpa mengurangi kesan mewahnya.

6. Joglo Sinom

Rumah ini mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu tampak pada jumlah pilar bangunannya yang mencapai 36 buah dengan 4 pondasi utama.

Posisi atapnya terletak di tengah dan ukurannya lebih tinggi dari pada rumah joglo tipe lainnya.

Perbedaan lain terdapat di ukuran bangunannya yang lebih dari joglo serta memiliki pekarangan yang tidak begitu lebar.

7. Joglo Lawakan

Joglo Lawakan (Pinterest)

Rumah adat Lawakan biasa juga di sebut dengan nama rumah Trajumas. Memiliki 16 tiang dan pada seluruh penyangga, 4 tiangnya adalah saka guru. Pada bagian atap terdiri dari 2 susun bubungan.

Bahan untuk membuat Rumah trajumas (Lawakan) ini adalah kayu nangka, sonokeling, jati dan lain sebagainya.

Tidak tahu berapa lebar ukuran rumah dan halamannya, apakah lebih luas dari rumah joglo yang lain.

8. Jompongan

Menggunakan dua buah pengerat dan mempunyai denah bujur sangkar, rumah Jompongan diklaim sebagai bentuk dasar rumah joglo.

Dalam bahasa jawa disebutnya bahwa: “Joglo Jompongan yaiku bentuk rumah joglo sing nganggo 2 buah pengeret karo denah bujur sangkar,” dikutip dari laman bukusemu.my.id.

Pada atapnya  bersusun 2 dan mempunyai bumbungan atap yang memanjang ke samping, baik kearah sisi kanan dan sisi kiri. Antara kedua atap tidak dipisahkan oleh pembatas alias menyatu saling menguatkan. Pada hiasan atapnya tampak sederhana saja dibandingkan dengan joglo lain.

9. Semar Tinandhu

Semar Tinandhu (Tokopedia)

Rumah adat Joglo Semar Tinandhu ini dikenal dengan sirkulasi udara bergerak secara lurus melalui celah diantara dua tembok sambungan. Udara bergerak dengan bebas tanpa hambatan sehingga memberikan kesegaran pada ruangan.

Dari laman ms66.ilovetranslation.com menyatakan ciri – ciri pada rumah Joglo Semar Tinandhu, yaitu:

9.1. Denah berbentuk persegi panjang.

9.2. Pondasi bebatur.

9.3. Memakai 2 saka guru (soko guru) sebagai tiang utama yang menyangga atap brunjung dan 8 saka pananggap. Kegunaannya sebagai penyangga yang berada diluar saka guru. Bagian bawah tiap saka diberi purus lanang untuk disambung ke purus wedokan dan diperkuat dengan umpak.

9.4. Terdapat 2 pengeret sebagai penyangga balok tandu.

9.5. Memiliki tumpang 3 tingkat yang ditopang balok tandu.

9.6. Atapnya mempunyai 4 jenis empyak yaitu; empyak brunjung, empyak cocor pada bagian atas dan empyak penanggap serta empyak penangkur dibagian bawah.

9.7. Pada atap terdapat molo.

9.8. Memakai usuk rigereh, usuk yang pada bagian atas bersandar pada dudur sedangkan bagian bawah bertumpu pada balok pengeret dan dipasang tegak lurus· Biasanya digunakan untuk regol ( pintu masuk).

10. Tajug

Tajug (Wikipedia)

Rumah adat Tajug memiliki atap yang berbentuk piramida atau limas bujur sangkar, yakni dasar persegi empat sama-sisi dan satu puncak. Pada umumnya, atap tajug dipakai untuk bangunan suci di Asia Tenggara termasuk Indonesia, seperti rumah ibadah umat Islam (masjid) dan juga cungkup makam.

Merujuk pada istilah tajug sendiri sangat identik dengan sebutan masjid, mushollah, atau surau di beberapa daerah di Indonesia.

Sejarahnya dulu sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, mereka menamakannya Tajug sebagai tempat ibadah mereka. Setelah Islam masuk, maka rumah ibadah tersebut berubah menjadi masjid. Agar lebih lengkap, Anda bisa nonton film sejarah Islam, khususnya asal usulnya di Indonesia.

Sebutan lain Tajug  adalah Tajub yang memiliki beberapa ruangan:

10.1. Mikrab

 Tempat Imam memimpin sholat dan khatib menyampaikan ceramah agama.

10.2. Liwan

Ruangan untuk semua jamaah yang terlibat ibadah.

10.3. Serambi / Emper

Tempat ibadah seperti Liwan dan terletak diluar dinding masjid digunakan apabila Liwan telah penuh.

10.4. Ruang Wudhu

Sebagai tempat untuk wudhu. Didesa tempat wudhu biasanya ditempatkan pada padasan (kolah/ kolam).

10.5. Pekiwan

Kamar mandi disediakan untuk para jamaah biasanya letaknya menjadi satu kesatuan dengan Ruang Wudhu. Namun kamar mandi juga berguna untuk buang air besar dan buang air kecil. Tak sedikit pula jamaah yang menggunakannya untuk mandi.

11. Rumah Kampung

Rumah Kampung (broonet)

Banyak jenis rumah ini bisa ditemukan di Jawa Tengah. Penyebabnya karena Rumah Adat Kampung di huni oleh kelas masyarakat menengah kebawah sehingga jumlah banyak.

Mempunyai dua teras yaitu di bagian depan dan belakang rumah. Fungsi dari keduanya tidak sama.

Tiang penyangka berjumlah genap atau kelipatan empat. Paling sedikit tiang berjumlah delapan buah. Dalam membuat rumah ini, baha yang dipakai untuk tiangnya adalah kayu, bisa kayu mahoni dan kayu nangka.

Yang lebih menarik, rumah Kampung tidak hanya ada di Jawa Tengah, Anda bisa temukan di daerah lain seperti Banjarmasin dan Madura serta di daerah Bali.

12. Panggang Pe

Panggang Pe (Faktabanten)

Rumah adat Panggang Pe dikenal juga dengan nama Rumah Cakrik yang merupakan rumah yang bisa dijumpai di Jawa Tengah.

Adapun arti nama Panggang Pe secara perkata yaitu Panggang dan Ape yang berarti ‘dijemur’.

Rumah yang terdiri dari enam tiang penyangga ini, merupakan salah satu rumah mayoritas penduduk Jawa Tengah pada zaman dahulu.

Fungsi lain ialah sebagai tempat usaha (Warung/Kios). Jika ditelusuri lebih jauh lagi, ada banyak tipe – tipe rumah Panggang Pem, yaitu: Panggang Pe Gedhang Salirang, Empyak Setangkep, Gedhang Setangkep, Cere Gancet, Trajumas, Dean Barengan.

Bahan dasar untuk membuatnya adalah kayu dan genting dengan keaslian bangunan yang belum terwarnai cat, maka dominasi warna coklat sangat terlihat.

Lihat: Nama Rumah Adat Sumatera Selatan

Dari penjelasan diatas, Anda pasti bertanya, kenapa ada yang lengkap dan ada yang tidak lengkap? Pertanyaan ini wajar saja. Kami sedikit mengalami kekurangan referensi dalam menulis deskripsi dari rumah adat Jawa Tengah. Anda bisa menambahkannya melalui kolom yang tersedia dibawah ini.

Faq

Q: Apa Itu Rumah Adat?

A: Rumah yang menjadi warisan sejarah masa lalu dalam lintasan sejarah Indonesia. Ada yang masih ada dan ada yang sudah tidak ada lagi.

Q: Ada berapa jumlah rumah adat Jawa Tengah?

A: Sebenarnya ada banyak. Namun pada kesempatan kali ini hanya disampaikan 12 rumah adat saja.

Q: Terbuat Dari Apa Rumah Adat Jawa Tengah

A: Hampir rata – rata bahan bakunya adalah kayu, mulai dari kayu nangka dan kayu jati.

Silahkan berkomentar