Sebut Penyerang Ulama Orang Gila, Jenderal Polisi Bintang Tiga Akhirnya Minta Maaf

Posted on

Terkait penyerangan yang dialami sejumlah tokoh agama dan rumah ibadah belakangan ini Polri meminta maaf. Terutama dalam hal menyebut pelakunya adalah orang gila.

“Maaf kalau institusi polisi cepat bilangnya seperti itu,” ujar Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto saat menghadiri Rapat Pleno ke-25 Dewan Pertimbangan MUI, di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Rabu (21/2), dilansir Jawapos.

Jenderal bintang tiga itu mengatakan, munculnya pernyataan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa lantaran ketika diinterogasi, menunjukkan perilaku aneh. “Ditanya, senyum-senyum. Dianggapnya gila. Mungkin suasana itu jawabnya enggak pas,” tutur Ari Dono.

Kendati demikian, terhadap fenomena ini, mantan Wakabareskrim itu menegaskan bahwa Polri akan mengusutnya hingga tuntas. Mereka yang berperilaku “nyeleneh” saat diperiksa akan diobservasi dan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. “Paling enggak makan waktu dua minggu untuk tau dia sakit jiwa,” tambahnya.

Namun jika ingin dilakukan pendalaman lebih lanjut butuh waktu selama dua bulan. Tentu, dengan melibatkan para ahli. “Kata ahli, ada yang gila, dibuat gila. Mungkin dibuat enggak sadar, minum sesuatu, sehingga menganiaya,” jelasnya.

Selain menggali keterangan dari pelaku, Polri juga akan meminta keterangan keluarga atau lingkungan yang mengenalnya. Sementara itu, Polri belum bisa mengetahui motif dari sejumlah aksi penyerangan itu. Pihaknya masih melakukan penyelidikan apakah ada keterkaitan antara satu kasus dengan kasus lainnya.

Namun yang pasti, dari 21 kasus penyerangan terhadap tokoh agama dan rumah ibadah, hanya dua yang terbukti pelakunya mengalami gangguan jiwa. Sisanya, isu yang dibuat-buat di media sosial sehingga menimbulkan keresahan.

“Ada juga peristiwa karena ramenya medsos, orang jadi parno. Ada yang sengaja menggoreng beritanya,” pungkas Ari.

Silahkan berkomentar