11+ Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara, Video dan Gambar Serta Penjelasan

Posted on

Tarian adat dari daerah Sulawesi Selatan sangat menarik untuk dibahas pada kesempatan kali ini. Pembahasan agar lebih lengkap maka kami hadirkan informasi terkait lainnya, seperti gambar dan penjelasannya yang ditemukan dari berbagai sumber.

Tari yang ada di wilayah propinsi Sulawesi Selatan banyak mengandung pesan yang disampaikan secara tersirat mengenai realitas masyarakat setempat, baik kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat.

Sulawesi Selatan yang beribukotakan Kendari ini mempunyai kesenian tari tradisional yang bisa dibilang lengkap. Hanya saja volume pertunjukkannya ada yang mengalami penurunan intensitas. Tidak tahu apa penyebabnya, apakah karena invasi budaya asing atau memang lemahnya kesadaran generasi sekarang. Untuk pelestarian tari, maka dibutuhkan strategi yang tepat sasaran. Pemerintah dan masyarakat umum harus menjalin kerjasama yang baik demi eksistensi kebudayaan nusantara ini.

Tarian Sulawesi Selatan datang dari daerah 15 kabupaten dan 2 kota, salah satunya kota Kendari. Ada isu pemekaran di daerah Sulawesi Tenggara menjadi dua propinsi. Namun sampai saat ini belum juga terealisasi.

Mengulas kesenian tari yang ada di daerah – daerah, maka akan lebih baik jika melakukan perbandingan (studi komparatif) antara satu daerah dengan daerah yang lain. Karenanya, kami sudah menulis beberapa waktu yang lalu tentang tarian adat Sulawesi Barat, tarian adat Sulawesi Tengah dan tarian adat Sulawesi Utara serta tarian adat Sulawesi Selatan. Hal ini berguna untuk Anda yang ingin secara lengkap mengetahui kebudayaan tari yang ada di pulau Sulawesi.

Beberapa Tarian Adat Daerah Sulawesi Tenggara Yang Pernah Ada

Data berikut ini merupakan hasil rangkuman dari sumber – sumber yang kami dapatkan. Selamat menyimak!

1. Tari Adat Dinggu

Tari Adat Dinggu (Youtube)

Tari adat Dinggu adalah tarian rakyat yang menggambarkan sifat kegotongroyongan masyarakat Tolaki ketika musim panen padi. Pada umumnya, tarian ini ditampilkan oleh penari laki-laki dan wanita dengan memakai busana petani pada zaman dahulu.

Merujuk pada sejarah, seni tari ini berawal dari kebiasaan masyarakat Tolaki yang melakukan panen padi dengan cara bergotong-royong. Usai proses panen padi selesai dan terkumpul semua, maka dilaksanakan sebuah acara Modinggu, yaitu bersama-sama menumbuk padi hasil panen. Proses ini melibatkan kaum pemuda dan pemudi yang ada.

2. Tari Adat Mowindahako

Tari adat Mowindahako dilaksanakan hanya bagi bangsawan atau anakia, tidak semua lapisan masyarakat dapat melaksanakannya. Syarat pelaksanaannya apabila suatu pinangan mereka sudah diterima. Sebagai wujud rasa senang digelarlah tarian Mowindahako. Tarian ini persis dengan kegiatan pada saat upacara adat perkawinan. Seperti memakai kalo, siwole dan menirukan model percakapan antara juru bicara laki-laki dan perempuan.

3. Tari Adat Umoara

Tari Adat Umoara (Youtube)

Tari adat Umoara ialah salah satu tarian tradisional Sulawesi Tenggara yang identik dengan kepahlawanan. Ya, tari ini berupa tari perang yang ditarikan untuk menyambut tamu agung pada saat perkawinan para bangsawan dan mengantar jenazah bangsawan. Selain itu, ketika raja dilantik, maka tarian ini juga hadir dalam pertunjukkan. Pesan yang disampaikan dari tarian ini adalah ketangkasan, kewaspadaan dalam menyerang musuh, dan membela diri dalam pertempuran.

4. Tari Adat Malulo

Tari Adat Malulo (Telukbone)

Tarian adat Malulo pada mulanya merupakan tarian sakral dan penuh filosofis.Namun dalam perkembangannya Malulo saat ini menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat. Pertunjukkannya pun dilakukan dengan cara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara yang dilaksanakan oleh instansi-instansi (pemerintah – swasta) atau organisasi.

Tari Malulo sangat digemari oleh suku bangsa Tolaki yang ditarikan pada waktu-waktu tertentu dengan jenis tarian Malulo tertentu pula. Momen yang sering dipakai untuk pertunjukkan tarian ialah: saat  usai panen atau bila terjangkit suatu wabah penyakit menular. Malulo Ore-Ore adalah salah satu jenis tarian yang diiringi bunyi-bunyian yang disebut Ore-Ore yang dibuat dari bambu. Sejatinya tarian ini ditarikan saat menjelang musim panen guna menghormati dewi panen berdasarkan keyakinan masyarakat setempat.

5. Tari Adat Galangi

Tari Adat Galangi (zonasultra)

Tari adat Galangi merupakan tarian yang asalnya dari kepulauan Buton Raya provinsi Sulawesi Tenggara. Tari ini khas dengan Tari Perang dalam Kerajaan/ Kesultanan Buton.Tari Galangi menggambarkan pasukan melawan musuh dengan memakai senjata perang yang bernama Gala. Selain itu, dalam suasana damai tari ini juga digelar, hanya saja fungsinya sebagai kelengkapan kebesaran, keagungan serta kemulian Sultan. Tari ini dimainkan untuk mengiringi Sultan pada saat keluar istana dalam suatu tugas atau menyambut dan mengantar tamu Kesultanan.

Jumlah penari pada tarian Galangi ini terdiri dari sebelas kelompok, pada tiap – tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Di zaman dahulu kelompok tersebut bertugas guna mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari luar. Sedang dalam keadaan aman, masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda-beda.

6. Tari Adat Lariangi

Tari Adat Lariangi (Kompas)

Tari adat Lariangi adalah tarian yang digelar dan fungsinya sebagai tari pembukaan suatu acara pesta pertemuan sebagai penghormatan terhadap tamu yang hadir. Tamu yang datang adalah dari kerajaan didaerah lain. Jumlah penarinya pun tidak banyak, beda dengan tarian lain. Pada tari Lariangi ini ditarikan oleh para penari wanita dan satu laki-laki. Ada syarat yang berat untuk jadi penarinya, yaitu haruslah para gadis keturunan bangsawan.

7. Tari Adat Lumense

Tari Adat Lumense (Kemdikbud)

Asal Tarian adat Lumense dari daerah kecamatan Kabaena, kabupaten Bombana. Peujaan terhadap sang dewa adalah makna dari tari ini. Tarian ini dipertontonkan pada upacara penyambutan tamu pesta-pesta rakyat di Kabupaten Bombana.

Kata Lumense sendiri berasal dari kata Lume dalam bahasa daerah yang berarti “terbang” dan mense yang berarti “tinggi”, sehingga dapat disimpulkan Lumense mempunyai arti Terbang Tinggi.

Pada zaman dahulu, tarian ini dilakukan pada ritual pe-olia, yaitu ritual penyembahan roh halus yang disebut kowonuano dengan cara menyajikan beraneka jenis makanan. Ritual ini bertujuan agar Kowonuoano berkenan mengusir bencana dan marabahaya. Tarian ini sering ditampilkan pada masa pemerintahan kesultanan Buton.

8. Tari Adat Moida-ida

Tari adat Moida-ida ini saat pertunjukkanya diiringi dengan nyanyian dan alat musik tradisional. Para penari yang ditugaskan kemudian berkelompok dan berkumpul membentuk lingkaran. Masing – masing dari mereka saling berpegangan pada seutas tali sehingga membentuk cincin. Unik bukan?

9. Tari Adat Balumpa

Tari Adat Balumpa (Google Image)

Tari adat Balumpa merupakan tarian rakyat Buton dan Wakatobi Binongko, Sulawesi Tenggara untuk mengucapkan selamat datang kepada tamu agung. Tari ini merupakan tarian yang menggambarkan kegembiraan masyarakat nelayan Buton dan Wakatobi Binongko dalam menghadapi terjangan ombak dilaut demi menghidupi keluarga.

Pada umumnya, tarian ini dimainkan oleh enam sampai delapan penari laki-laki dan perempuan secara berpasangan. Namun tarian ini juga dapat dilakukan oleh penari pasangan perempuan saja. Pada pertunjukkannya, penari Balumpa memakai busana adat Wakatobi dengan iringan musik gambus dan gendang serta iringan suara dendang biduan Balumpa.

10. Tari Adat Mangaru

Tari adat Mangaru ialah tari tradisional yang asalnya dari Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Tarian ini menggambarkan keberanian laki-laki pada zaman dahulu saat berlaga di medan peperangan, yaitu bercerita tentang dua orang laki-laki yang sedang dalam medan peperangan. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan kepada para penonton bagaimana kedua laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan memakai sebilah keris yang dipegang.

Agar lebih semarak, tari Mangaru diiringi oleh alat musik tradisional yaitu kansi-kansi, Mbololo (gong) dan dua buah gendang yang terbuat dari kulit binatang. Alat musik tradisional dimainkan oleh orang yang memang mahir dalam memainkannya berjumlah empat orang. Irama musik pengiring tari ini berbeda dengan musik pengiring tari yang lain walaupaun alat yang digunakan sama. 

Pada umumnya, Tari Mangaru dipertunjukan pada berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Tarian ini memang sudah jadi budaya bagi masyarakat desa Konde sehingga sering dilaksanakan saat pesta panen tiba. Selain itu, fungsi tari ini yaitu untuk mengumpulkan warga kampung di satu tempat guna menjalin silaturahmi.

11. Tari Adat Lulo

Tari Adat Lulo adalah tari yang berasal dari Tokotua, kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Tari Lulo ini digelar dalam rangka ritual adat karena melimpahnya rezeki yang didapat melalui hasill panen. Sebuah tari yang menyimbolkan tentang rasa syukur.  

Umur tari ini sudah lama, yaitu sejak zaman pemerintahan kerjaan kesultanan Buton, dimana beras sebagai hasil pertanian Tokotua untuk memperkuat pilar perekonomian Kesultanan Buton.

Jumlah penari yang ditugaskan terdiri dari 12 orang yang dibagi dalam 2 kelompok. Delapan penari putra memegang alu (Penumbuk Padi) dan empat orang penari perempuan memegang nyiru sebagai alat penapis gabah, ditambah sapu tangan yang menggambarkan proses penapisan gabah.

Ada pun kostum yang dipakai pada tari tersebut merupakan ciri khas Kabaena. Warna dominan pada pakaian adalah dasar hitam dan wama kekuning-kuningan serta kemerah-kemerahan.

Saat pertunjukkan, banyak alat musik tradisional yang mengiringinya guna menghidupkan suasana. Salah satu alat musik yang dipakai adalah Kendang.

Baca juga: Tari Adat Maluku

Akankah Tarian Adat Daerah Sulawesi Selatan Tetap Ada?

Pertanyaan ini harus kita sampaikan, mengapa? Karena sudah banyak budaya asli Indonesia yang tinggal sejarah. Padahal kita sebagai generasi yang mendapat warisan sejarah tinggal melestarikan saja, itu pun tidak bisa. Belum lagi ada tradisi Inondesia yang di klaim oleh negara tentangga dan kita tidak mampu menangkalnya. Sangat disayangkan.

Untuk bertahannya eksistensi tarian Sulawesi Tenggara, maka mau tidak mau harus melibatkan pemerintah untuk pro aktif dalam kebijakannya. Persulit budaya asing masuk ke Indonesia atau proses imunitas dilakukan dengan cara yang efektif. Kita yakin pemerintah sudah tahu apa yang akan dilakukan. Hanya saja pemerintah mau atau tidak. Ini yang jadi persoalan. Masyarakat harus mengawal kinerja pemerintah.

Semoga saja anak cucu kita di masa depan masih bisa mengenal dan menikmati apa saja budaya Indonesia. Bukan sebaliknya.

Akhirnya kami meyakini para pembaca sudah mengenal tentang tarian adat daerah Sulawesi Tenggara. Jika mau menambahkan atau memberikan koreksi kepada kami, dengan senang hati kami menyambutkan. Saran, kritik atau masukan dapat disampaikan pada kolom komentar dibawah. Terima kasih sudah mampir.