22 Tarian Adat Daerah Sumatera Utara dan Gambar Serta Keterangannya

Posted on

Tarian adat daerah di propinsi Sumatera Utara sangat beragaman jenisnya, mulai dari pakaian yang dikenakan, pola lantai dipilih sampai pesan yang ingin disampaikan. Hal ini sangat menarik untuk dipelajari oleh semua, termasuk para pembaca. Tidak kalah menariknya dengan mempelajari tarian adat Sumatera Selatan yang sudah kami sampaikan beberapa waktu yang lalu.

Tari adat Sumatera Utara jika dikaji dari aspek sejarah, maka akan ditemukan basis kesukuan yang kompleks. Ada tarian yang berbasis suku melayu, suku batak, dan dari suku lainnya yang ada di Sumatera Utara. Kemudian, ada tari yang masih eksis hingga kini dan ada pula yang sudah mulai ditinggalkan.

Pengaruh budaya asing terhadap eksitesni budaya lokal di Sumatera Utara sangatlah kuat. Medan sebagai ibukota kini menjadi kota yang terbuka untuk semua budaya dan kesenian. Semoga pemerintah daerah segera ambil kebijakan guna mempertahankan eksistensi kesenian tari di Sumatera Utara. Jangan sampai di masa uag akan datang, generasi mudanya tidak kenal dengan kesenian suku Batak yang ada di Sumut misalnya.

Selain itu, untuk mempertahankan tarian daerah Sumetera Utara agar tetap ada, diperlukan juga kesadaran dari masyarakar setempat. Jangan sampai masyarakat tidak mau peduli dengan kesenian daerahnya.

Nah, bagi kalian yang ingin tahu apa saja tarian adat daerah Sumatera Utara, simak informasinya ini.  

1. Tari Adat Piso Surit

Piso dalam bahasa Batak Karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang Karo. Sebenarnya Piso Surit berasal dari bunyi sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan.

Tari Adat Piso Surit via Youtube

Piso Surit adalah salah satu tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang gadis sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut “pincala” bunyinya nyaring dan berulang-ulang dengan bunyi seperti “piso serit”. Tarian ini diselingi oleh alat musik tradisional Karo yang khas dengan suaranya.

2. Tari Adat Guro-Guro Aron (Terang Bulan)

Tari Adat Guro-Guro Aron via Kemendibud.go.id

Guro-guro Aron adalah arena muda-mudi Karo untuk saling kenal dan sebagai lembaga untuk mendidik anak muda-mudi mengenal adat. Dahulu acara ini dibuat sebagai salah satu alat untuk membudayakan seni tari Karo agar dikenal dan disenangi oleh muda-mudi dalam rangka pelestariannya.

3. Tari Adat Tak-Tak Garo-Garo

Tari Adat Tak-Tak Garo-Garo via Youtube

Tari ini berasal dari Phakpak, Dairi, Propinsi Sumatera Utara. Dairi merupakan kabupaten yang berada di bawah Sumatera Utara dan berbatasan dengan daerah propinsi Aceh. Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawanya.

4. Tari Adat Fataele

Tari Adat Fataele via WordPress

Tari Fataele adalah tarian adat yang berasal dari pulau Nias. Tarian ini merupakan jenis tari perang dan menjadi tradisi khas Nias yang sangat berhubungan dengan tradisi hombo batu yakni tradisi lompat batu yang keduanya lahir secara bersamaan. Tari ini menjadi salah satu jenis tarian yang terkenal di Sumatera Utara khususnya Nias.

Dalam pertunjukan, tarian Sumatera Utara ini, penari akan membawa gari atau pedang, baluse atau tameng dan juga toho atau tombak sebagai properti ketika menari. Tameng yang digunakan biasanya terbuat dari kayu berbentuk menyerupai daun pisang pada tangan kiri. Sedangkan pedang atau tombak akan dipegang pada tangan kanan. Kedua senjata ini juga menjadi senjata utama yang digunakan ksatria Nias ketika berperang.

Baca juga: Kebudayaan Suku Nias

5. Tari Adat Tandok

Tari Adat Tandok via Youtube

Tari Tandok adalah tarian dari Sumatera Utara yang erat kaitannya dengan budaya tanam masyarakat Batak. Tarian ini mengisahkan tentang kegiatan panen beras memakai tandok yang dikerjakan para ibu di ladang.

Tarian ini biasanya dilakukan para wanita yang memakai pakaian tradisional Batak dengan dominasi warna hitam dan merah. Sementara properti yang dipakai adalah tandok, ulos dan juga kain sarung yang biasanya dilakukan empat orang penari akan tetapi juga bisa dilakukan lebih dari empat orang asalkan jumlahnya genap.

Sementara untuk musik yang digunakan adalah musik Gondang yakni alat musik ansambel yang memiliki tangga nada beragam. Jika pada gamelan Bali dan Jawa variasi musik dihasilkan dari kehandalan pemain Salendro, dalam Gondang akan tergantung dari pemain Sarune dan Taganing.

6. Tari Adat Lenggok Mak Inang

Tari Adat Lenggok Mak Inang via Youtube

Tari Lenggok Mak Inang bercerita tentang dara dan lajang yang sedang dalam proses mencari pasangan suami istri. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana pasangan muda-mudi tersebut berkenalan dan melakukan pendekatan satu sama lain dan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan.

Ada empat ragam gerakan dalam Tari Lenggok Mak Inang. Pada ragam-ragam tersebut ada beberapa gerakan yang sama dengan gerakan sebelumnya, ada pula gerakan yang berbeda. Ragam-ragam gerakan Tari Lenggok Mak Inang saling melengkapi dan berkolaborasi antara satu ragam dengan ragam yang lain.

7. Tari Adat Endeng-Endeng

Tari Adat Endeng-Endeng via Youtube

Endeng-endeng dapat dikategorikan sebuah perpaduan tarian dan pencak silat. Tari ini menggambarkan semangat dan ekspresi gembira masyarakat sehari- hari, lazimnya dilakukan masyarakat yang sedang menggelar pesat khitanan (sunat rasul) atau malam pesta perkawinan oleh masyarakat.  

Tari endeng-endeng merupan tari tradisi yang berasal dari daerah Tapanuli Selatan. Dalam penampilannya, endeng-endeng dimainkan oleh sepuluh pemain yakni dua orang bertugas sebagai vokalis, satu orang pemain keyboard, satu orang pemain tamborin, lima orang penabuh gendang, dan seorang pemain ketipung (gendang kecil).  Daya tarik kesenian ini adalah joget dan tariannya yang ceria, sesuai dengan lagu-lagu yang dibawakan.

8. Tari Adat Serampang Dua Belas

Tari Adat Serampang Dua Belas via wikipedia

Tari ini merupakan jenis tari tradisional yang dimainkan sebagai tari pergaulan yang mengandung pesan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu dari sekian banyak tarian yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang di Kabupaten Serdang Bedagai (dahulu Kabupaten Deli Serdang).

Tarian ini menjadi salah satu cara masyarkat Melayu Deli dalam mengajarkan tata cara pencarian jodoh kepada generasi muda. Sehingga Tari Serampang Dua Belas menjadi kegemaran bagi generasi muda untuk mempelajari proses yang akan dilalui nantinya jika ingin membangun  rumah tangga.

9. Tari Adat Tor-Tor Tongkat Panaluan

Tari Adat Tor-Tor Tongkat Panaluan via Wikipedia

Tari tongkat Panaluan adalah sebuah tongkat yang bersifat magis dan terbuat dari kayu yang telah diukir dengan gambar kepala manusia dan binatang, panjang tongkat tersebut diperkirakan lebih kurang 2 (dua ) meter sedangkan tebalnya / besarnya kira – kira 5-6 cm.. Dalam suku batak tongkat panaluan dipakai oleh para datu dalam upacara ritus, dan tongkat ini dipakai para datu (dukun) dengan tarian tortor yang diiringi gondang (gendang) sabangunan.

Konon menurut sejarah suku batak bahwa Tunggal Panaluan ini merupakan fakta sejarah yang memiliki kisah hubungan terlarang, pada dahulu kala ada seorang raja yang tinggal di desa Sidogor dogor Pangururan di pulau Samosir di teluk perpisahan antara darat dan air, Raja ini bernama Guru Hatiabulan dengan memiliki seorang istri bernama Nan Sindak Panaluan.

10. Tari Adat Tor-Tor Sigale-Gale

Tari Adat Tor-Tor Sigale-Gale via Youtube

SiGale-gale adalah nama sebuah patung yang terbuat dari kayu yang berfungsi sebagai pengganti anak raja Samosir yang telah meninggal. Untuk menghibur raja maka dibuatlah patung kayu yang di beri nama sigale-gale dan di gerakkan oleh manusia. Sigale-gale merupakan pertunjukan kesenian dari daerah Tapanuli Utara.

Baca: Kebudayaan Suku Batak

11. Tari Adat Souan

Tari Adat Souan via Silontong

Tari ini berasal dari daerah Tapanuli Utara. Tari ini merupakan tari ritual, dahulunya tari ini dibawakan oleh dukun sambil membawa cawan berisi sesajen yang Sebagai media penyembuhan penyakit bagi masyarakat Tapanuli Utara.

12. Tari Adat Persembahan

Tari Adat Persembahan via Blogger

Tari persembahan atau sirih ini sering dilaksanakan pada saat menyambut atau menghormati tamu- tamu penting. Tarian ini biasa dilakukan oleh sepasang muda- mudi, dengan menggunakan busana adat khas Melayu lengkap.

13. Tari Adat Tor-Tor Tujuh Cawan

Tari Adat Tor-Tor Tujuh Cawan via Blogger

Tarian tor-tor  tujuh cawan mengandung arti pada setiap cawannya. Untuk cawan 1 mengandung makna kebijakan, cawan 2 kesucian, cawan 3 kekuatan, cawan 4 tatanan hidup, cawan 5 hukum, cawan 6 adat dan budaya, cawan 7 penyucian atau pengobatan. Kegunaan lain dari tarian ini adalah untuk membuang semua penghalang bagi orang yang hadir disitu, tentunya bagi yang percaya.

Tari Tor-Tor Tujuh Cawan tidak bisa dipelajari sembarangan orang kecuali kalau memang sudah jodoh. Lewat turun temurun, tarian tujuh cawan dianggap sebagai tarian paling unik karena sang penari harus menjaga keseimbangan tujuh cawan yang diletakkan di kedua belah tangan kanan dan kiri tiga serta satu di kepala.

14. Tari Adat Toping-Toping (Huda-Huda)

Tari Adat Toping-Toping via Uksu

Toping-toping adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan. Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 2 (dua) bagian.

Bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa.

Bagian kedua adalah manusia memakai topeng yang disebut topeng dalahi dan topeng ini dipakai oleh kaum laki-laki dan wajah topeng juga menyerupai wajah laki-laki dan kemudia topeng daboru dan yang memakai topeng ini adalah perempuan karena topeng ini menyerupai wajah perempuan (daboru).

15. Tari Adat Campak Bunga

Tari Campak Bunga merupakan tarian yang menggambarkan ejekan, sindiran, atau pun kelakar masyarakat dalam mempergunjingkan tingkah laku anak-anak muda yang sedang dilanda asmara. Tarian ini berhubungan dengan Tari Lenggok Mak Inang, sebuah tarian yang menggambarkan kisah cinta sepasang kekasih sejak mereka bertemu hingga ke pelaminan.

Hubungan tema antara tari Campak Bunga dengan Tari Lenggok Mak Inang membuat kedua tarian ini mempunyai bentuk gerak dan pola edar yang serupa. Hanya saja, pada saat lagu pengiring sampai pada refrein, gerakan Tari Campak Bunga merupakan kebalikan dari gerakan pada Tari Lenggok Mak Inang.

Baca juga: Alat Musik Tradisional Sumatera Utara

16. Tari Adat Lenggang Patah Sembilan

Tari Adat Lenggang Patah Sembilan via Youtube

Tari Lenggang Patah Sembilan dalam pementasannya ditarikan oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Keduanya menari dengan serempak dan dinamis, sambil diiringi musik dan lagu-lagu Melayu. Menurut seniman tari Melayu, gerakan tari Lenggang Patah Sembilan sebenarnya hampir sama dengan tari Melayu lainya. Namun, perbedaannya terdapat pada saat memulai gerakan, yaitu penari yang ada di sebelah kiri memulai gerakannya dengan kaki kiri. Begitu pula sebaliknya, penari yang ada di sebelah kanan memulai gerakannya dengan kaki kanan.

17. Tari Adat Manduda

Tari Adat Manduda via Silontong

Tari ini berasal dari daerah Simalungun, menggambarkan kehidupan petani yang sedang turun kesawah dengan suasana gembira, mulai menanam padi hingga sampai kepada suasana menuai padi. Gerak memotong padi, mengirik dan menampis padi tergambar melaui motif-motif gerakannya yang lemah gemulai dan lincah.

18. Tari Adat Balanse Madam

Tari Adat Balanse Madam via Silontong.com

Sejarah keberadaan Tari Balanse Madam tidak terlepas dari kehadiran bangsa Portugis di pantai barat pulau Sumatera pada abad ke enam belas. Tari Balanse Madam merupakan sebuah kesenian tari yang berupa peninggalan budaya lama yang telah ditransmisikan secara turun temurun dalam masyarakat suku Nias di Seberang Palinggam.

Kedatangan bangsa Portugis ke Kota Padang telah membawa dampak terhadap tumbuhnya kesenian di Padang waktu itu, diantaranya tari Balanse Madam dan Musik Gamad. Tari Balanse Madam sebuah tari tradisional yang terdapat di Seberang Palinggam Kota Padang, yang menjadi milik dan warisan budaya masyarakat Suku Nias Kota Padang.

19. Tari Adat Baluse

Tari Adat Baluse via Youtube

Tari baluse merupakan tari perang ala masyarakat Nias. Tarian ini berasal dari Nias Selatan. Sekarang ini, tari baluse biasanya digunakan untuk penyambutan tamu atau wisatawan.

20. Tari Adat Maena

Tari Adat Maena via Gird

Maena merupakan tarian yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan, yang tak kalah menariknya dengan tarian-tarian yang ada di Nusantara. Tari maena tidak memerlukan keahlian khusus. Gerakannya yang sederhana telah membuat hampir semua orang bisa melakukannya. Kendala atau kesulitan satu-satunya adalah terletak pada rangkaian pantun-pantun maena, supaya bisa sesuai dengan event dimana maena itu dilakukan.

Pantun maena biasanya dibawakan oleh satu orang atau dua orang dan disebut sebagai sanutuno maena, sedangkan syair maena (fanehe maena) disuarakan oleh orang banyak yang ikut dalam tarian maena dan disebut sebagai sanehe maena/ono maena. Syair maena bersifat tetap dan terus diulang-ulang/disuarakan oleh peserta maena setelah selesai dilantunkannya pantun-pantun maena, sampai berakhirnya sebuah tarian maena. Pantun maena dibawakan oleh orang yang fasih bertuntun bahasa Nias.

21. Tari Adat Moyo (Tari Elang)

Tari Adat Moyo via Uksu

Tari moyo atau tarian elang juga merupakan tarian yang biasa digunakan untuk penyambutan tamu agung yang dilakukan secara adat. Tarian ini biasanya dibawakan oleh gadis-gadis Nias yang melakukan gerakan layaknya burung elang.

Baca: Lagu Daerah Sumatera Utara

22. Tari Adat Sapu Tangan

Tari Sapu Tangan merupakan tari tradisional Melayu yang berasal dari Sumatra Utara. Tarian ini menggambarkan kegiatan masyarakat Melayu pedesaan dalam keseharian mereka. Tari Sapu Tangan bertempo sedang, yaitu 2/4 namun sedikit lebih cepat. Sesuai dengan lagu pengiringnya, yaitu lagu Cek Minah Sayang, tarian ini pun sering disebut sebagai Cek Minah Sayang. Ragam gerakan dalam tarian ini mirip dengan Tari Kapri dari Tapanuli Tengah atau Tari Kaparinyo dari Minangkabau. Sebagaimana namanya, tarian in menggunakan sapu tangan dari awal hingga akhir.

Tarian ini menggambarkan kebiasaan masyarakat, misalnya dalam kegiatan setelah panen. Kegiatan ini penuh dengan rasa kekeluargaan dan memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Nilai-nilai kearifan dan kebiasaan masyarakat Melayu tersebut tercermin pada gerakan-gerakan dalam ragam tarian ini.

Baca juga: Alat Musik Tradisional Nias

Bagaimana? Kami yakin Anda sudah tahu apa saja tarian adat daerah Sumatera Utara. Jangan lupa bagikan kepada teman – teman Kamu yang ada di komunitas Komunikasi Daring ya. Terima kasih kami ucapkan karena sudah berkenan mampir kemari.

Oh iya, bagi kamu yang berada di luar Medan dan ingin datang, maka bisa rental mobil di Medan atau sewa bus pariwisata Medan jika jumlah rombongan kamu lebih banyak.