10 Upacara Adat Khas Aceh, Makna serta Penjelasannya

Posted on

Upacara adat Aceh ada banyak ragam yang bertahan di tengah-tengah masyarakat. Meski masih ada tradisi yang sudah mulai ditinggalkan dan hanya di daerah tertentu saja warga Aceh yang masih melaksanakannya.

Aceh dengan segala macam budayanya yang menarik untuk dibahas ternyata memiliki ritual upacara adat yang harus kita ketahui sebagai warga negara yang baik dan peduli dengan nusantara. Pada kali ini kita akan bahas satu persatu apa saja upacara adat di Tanah Rencong ini. Dari upacara untuk kelahiran anak sampai dengan upacara pernikahan dan kematian. Terlepas dari perdebatan pelaksanaannya, semua kebiasaan yang berlaku di Aceh sampai kini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Apatah lagi saat ini Aceh sedang digalakkan jadi kota wisata Islami. Banyak turis berdatangan dari dalam dan luar negeri. Pihak agen travel pun tidak berhenti melakukan promosi paket wisata Aceh.

Bagi Anda yang sudah tahu apa saja upacara Aceh, maka informasi ini anggap saja untuk mengulang pelajaran. Anda dipersilahkan untuk sampaikan kritik atau saran terhadapnya. Namun jika Anda memang membutuhkan informasi ini, kami sangat ucapkan terima kasih karena Anda sudah bersedia untuk mendatangi dan membacanya. Usai membaca, jangan lupa share kepada teman – teman Anda. Beritahu kemereka bahwa Aceh memang luar biasa.

Baca: Kata Sedih Tentang Masalah Keluarga

Upacara Adat Aceh Disertai Makna dan Penjelasan

Baiklah, tanpa berlama lagi, berikut kita bahas satu persatu mengenai upacara adat Aceh yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber. Selamat menyimak!

1. Upacara Troen U Blang

Gambar terkait dengan upacara adat Aceh
Sumber: Sumberpost.com

Troen U Blang ialah upacara hajat kenduri yang dilakukan masyarakat Aceh saat musim tanam padi dimulai. Dengan kegiatan ini, mereka berharap agar tanaman padi bisa panen dengan melimpah dan menambah penghasilan ekonomi.

Baca : Alat Pemanen Padi

2. Upacara Tulak Bala (Tolak Bala)

Uraian terkait dengan upacara adat khas Aceh yang unik
Sumber : Google Image
Dalam hidup sudah pasti ada bala yang sedianya sebisa mungkin dihindarkan oleh manusia yang dhidup didunia. Setiap manusia berbeda dalam menghalau bala yang akan datang. Nah, cara unik dilakukan oleh masyarakat Aceh. Dimana mereka melakukan upacara yang dinamakan Upacara Tulak Bala (Tolak Bala). 

Tradisi Tolak Bala ini dilakukan atas dasar pandangan bahwa bulan Shafar adalah bulan panas dan banyak naasnya yang biasa membawa bahaya. Tradisi ini kerap dilakukan oleh masyarakat Aceh bagian Barat-Selatan khususnya masyarakat Aceh Barat Daya setiap satu tahun sekali.

Baca : 6 Keunikan Pakaian Adat Tradisional Aceh

3. Upacara Peutron Aneuk

Kegiatan yang berhubungan dengan Upacara adat khas Aceh yang penuh makna
Sumber : Istimewa
Masyarakat Aceh akan menggelar upacara ini ketika adanya lahir anak bayi. Peutron Aneuk digelar memang untuk menyambut sang buah hati yang baru lahir kedunia. Untuk waktunya, menang terjadi perbedaan dalam pelaksanaannya, yakni : ada warga yang melaksanakan upacara ini pada hari ke-7 setelah kelahiran, dan ada juga yang menyelenggarakannya pada hari ke-44 usai kelahiran bahkan ada pula yang melangsungkannya setelah bayi berumur lebih dari satu tahun.

Sekedar gambaran pelaksaannya, yaitu prosesi acara ini banyak melibatkan ritual-ritual simbolik, salah satunya yaitu bagian dimana sehelai kain direntangkan di atas kepala bayi, sebutir kelapa kemudian dibelah di atas kain. Kelapa yang telah dibelah akan diberikan kepada kedua belah pihak orang tuanya sebagai simbol dan juga harapan tetap terjadinya kerukunan di kedua belah pihak.

Pemahaman yang diyakini lainnya oleh masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini, yaitu ada yang mengatakan bahwa tujuan pembelahan buah kelapa dimaksudkan agar si bayi tidak mudah takut dengan suara petir yang datang tiba – tiba.

Baca: Rental Mobil Banda Aceh

4. Upacara Samadiyah

Kegiatan Samadiyah bagi masyarakat Aceh merupakan tradisi doa bersama untuk orang yang baru meninggal dunia. Waktu pelaksanaan Samadiyah umumnya dilakukan selama tujuh malam berturut-turut usai kepergian almarhum/ah. Pasca kematian anggota keluarga, maka rumah duka tidak sepi. Masyarakat ramai datang untuk “menghibur” keluarga ahli musibah. Selain doa bersama, rangkaian acara juga diisi dengan zikir dan pembacaan surat Yasin.  

5. Upacara Meugang

Acara Upacara Meugang
Sumber : Blog Kulo

Pelaksanaan Meugang bagi masyarakat Aceh ialah tradisi paling menarik yang terjadi di Aceh yang sampai kini masih dilestarikan. Bagi yang penyuka daging sapi atau kambing (Baca : Aqiqah Medan), momen inilah yang tepat untuk melampiaskannya. Pada saat Meugang, rumah-rumah warga Aceh akan dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera. Pada tradisi Meugang, daging yang telah dimasak akan dinikmati bersama keluarga dan kerabat serta dibagi-bagikan pada anak yatim/piatu dan kaum dhuafa. Dalam setahun, acara Meugang dilaksanakan oleh masyarakat Aceh sebanyak tiga kali, yakni masing-masing dua hari sebelum Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha.

Baca: Kata Bijak Menghadapi Masalah Keluarga

6. Upacara Ba Ranub Kong Haba

Tradisi-Ba-Ranub-Kong-Haba
Sumber : Tribunnews
Ketika sepasang kekasih di Aceh hendak melaksanakan pernikahan, maka harus melakukan prosesi upacara Ba Ranub Kong Haba. Untuk waktu pelaksanaanya, biasanya antara calon pengantian pria dan wanita sudah menyepakatinya. Bisa juga menerima masukan dari pihak orang tua atau sanak famili.

Saat hari H, datanglah serombongan orang tua dari pihak calon pengantin pria kepada pihak orang tua calon pengantin wanita untuk melaksanakan acara pertunangan. Kedatangan pihak pengantin pria biasanya tidak tangan kosong, melainkan mereka membawa sirih penguat ikatan (ranub kong haba), yaitu sirih lengkap dengan alat-alatnya dalam cerana, pisang talon (pisang raja dan wajib satu talam). Selain itu, juga dibawa benda mas satu atau dua mayam dengan ketentuan menurut adat.

Lalu bagaimana jika pernikahan tidak jadi dilaksanakan? Kalau ikatan ini putus disebabkan oleh pihak pria, tanda mas tersebut harus dikembalikan dua kali lipat. Pada upacara ini juga ditentukan hari dan bulan diadakannya pernikahan dan pulang pengantin.

Baca: Kata Buat Diri Sendiri Yang Lagi Sakit

7. Upacara Jeulame

Pada adat istiadat masyarakat Aceh, bicara mahar hanya dikenal berupa emas dan uang. Setiap daerah mempunyai kebiasaan berbeda terkait jumlah Maharnya. Pada bagian Barat Aceh mahar berupa emas yang diberikan sesuai kesepakatan, biasanya berjumlah antara belasan sampai puluhan macam. Dan sedangkan didaerah Timur, mahar yang diajukan dibawah belasan tapi menggunakan uang tambahan yaitu disebut “peng angoh” (peng-uang, angoh-hangus).

Tujuan dari kebiasaan diatas adalah untuk membantu pihak perempuan dalam menyelenggarkan pesta dan membeli isi kamar. Jumlah Mahar berdasarkan kebiasaan yang berlaku ditetapkan oleh pihak perempuan dan biasanya kakak beradik memiliki mahar yang terus naik atau minimal sama. Tetapi semua hal tentang mahar ini dapat berubah-ubah sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Masyarakat Aceh yang mayoritas beragam Islam sejatinya paham tentang ajarannya yang tidak memberatkan terkait mahar.

8. Upacara Idang dan Peuneuwoe

Ulasan-tentang-Idang-dan-Peuneuwoe
Sumber : Steemit
Masih terkait dengan pernikahan bagi masyarakat Aceh dan kali ini nama tradisinya adalah Idang (hidang) dan Peunuwo atau pemulang adalah hidangan yang diberikan dari pihak pengantin kepada pihak yang satunya. Pada umumnya saat Intat Linto Baro (mengantar pengantin pria), rombongan dari pihak tersebut membawa Idang untuk pengantin wanita berupa pakaian, kebutuhan dan peralatan sehari-hari untuk calon istri. Dan pada saat Intat Dara Baro (mengantar pengantin wanita), rombongan akan membawa kembali talam yang tadinya diisi dengan barang-barang dan makananan khas Aceh seperti bolu, kue boi, kue karah, wajeb, dan sebagainya.

9. Upacara Troen U Laoet

Kebiasaan yang berlaku di masyarakat Aceh yang merupakan upacara hajat semacam kenduri yang dilakukan pada saat musim melaut. Bertujuan sebagai rasa syukur agar hasil ikan di laut melimpah. Kegiatan ini biasanya dilakukan bagi warga yang berprofesi sebagai nelayan dengan mengundang jiran tetangga untuk hadir. Atau untuk kepentingan bersama para nelayan, maka acara kenduri dilakukan secara bersama.

Tantangan dilaut zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Akibat serakahnya manusia, ada alat penangkap ikan di laut yang bernama pukat harimau, pukat grandong, pukat cencen dan sebagainya. Semua alat tersebut sangat merugikan para nelayan tradisional. 

Baca : Alat Transportasi Laut

10. Upacara Peusijuk

Tradisi-Peusijuk
Sumber : Istimewa
Tradisi ini berlaku untuk siapa saja, bisa anak yang hendak sunnah Rosul, warga yang mau pergi haji, mereka yang hendak menempati rumah baru, para pengantin baru dan kegiatan lainnya. Harapan dari kegiatan ini adalah terwujudnya hidup bahagia dan tentram.

Informasi tambahan terkait dengan tata cara pelaksanaan Peusijuek bisa Anda temukan dilaman internet. Namun pada kesempatan ini kami akan coba paparkan sedikit, pertama dengan menaburkan beras padi (breuh padee), kedua menaburkan air tepung tawar, ketiga menyunting nasi ketan (bu leukat) pada telinga sebelah kanan dan terakhir adalah pemberian uang (teumutuek).

Bahasa lain dari Peusijuk adalah Tepung Tawar bagi warga Medan Sumatera Utara (Sumut).

Baca : Rental Mobil Medan

Kami cukupkan sampai disini informasi tentang upacara adat Aceh, makna dan penjelasannya. Semoga apa yang disampaikan ini memberikan manfaat kepada para pembaca. Jika ada pertanyaan dan sejenisnya, jangan sungkan menuliskannya pada kolom komentar.  

2 comments

Silahkan berkomentar