17 Upacara Khas Adat Jawa Tengah, Nama dan Keterangannya

Posted on

Upacara adat Jawa Tengah dan nama serta keterangannya sangat perlu diketahui bersama oleh warga negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Usai mengenal apa saja tradisi Jawa Tengah, kita juga dituntun untuk mencari tahu apa tujuannya dan kenapa dilakukan oleh warga setempat dari dulu hingga kini. Dengan begitu, informasi yang kita dapatkan lengkap alias tidak sepotong – sepotong terkait sosial budaya nusantara.

Selain kaya akan kesenian, Jawa Tengah yang luasnya mencakup 32.801 km² ternyata memiliki ragam warisan tradisi yang menarik untuk diketahui. Paling tidak – berdasarkan informasi kami – ada belasan kebiasaan adat yang pernah ada di Jawa Tengah. Sampai sekarang, beberapa dari tradisi tersebut masih terus dilestarikan oleh masyarakat.

Kita berharap upacara adat Jawa Tengah terus ada sampai akhir masa. Jangan sampai kalah dengan arus budaya dari luar. Guna mempertahankan eksistensi tradisi Indonesia, yang perlu diperhatikan adalah peran semua elemen masyarakat, terlebih lagi peranan pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Berbagai kebijakan bisa dikeluarkan guna merawat tradisi daerah. Mulai dari mewajibkan setiap orang indonesia mempelajarinya sampai kebijakan dijadikan objek wisata. Semoga saja.

Baiklah, tanpa memperlama kata pengantar lagi, kita langsung bahas satu persatu. Eits, sebelumnya kami hendak sampaikan kepada Anda bahwa diblog ini sudah pernah di tulis upacara adat Aceh, upacara adat Sumatera Utara, Upacara adat Sumatera Barat dan upacara adat Lampung. Sebaiknya Anda baca juga ya.

Kumpulan Upacara dan Tradisi Adat Jawa Tengah dan Keterangannya

1.Tradisi Syawalan

Tradisi-Syawalan
Sumber : Tribunnews

Tradisi Syawalan di Jawa Tengah selalu diisi dengan beragam kegiatan oleh warga. Ada yang mengisi dengan acara doa bersama di rumah ibadah yang bernama masjid, ada juga yang membuat acara tabligh akbar, dan ada juga yang menggelar acara lomba dengan hadiah yang menarik. Kebiasaan membuat kegiatan di Syawalan sudah berlaku lama bagi warga yang berada di kabupaten/kota dibawah wilayah propinsi Jawa Tengah.

Asal muasal tradisi Syawalan di Jawa Tengah ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga mereka pun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.

2. Tradisi Popokan

Tradisi-Popokan
Sumber : BudayaJawa.id

Kegiatan Popokan merupakan tradisi melempar lumpur yang dilaksanakan oleh warga Beringin di daerah Semarang. Untuk pemilihan waktu, dilakukan pada saat bulan Agustus, tepat di hari Jum’at Kliwon. Berdasrkan sejarahnya, tradisi ini berawal dari dahulu di daerah Beringin didatangi seekor hewan jenis macan dan dirasa memberikan ancaman terhadap warga desa, sehingga segala macam peralatan dipakai guna mengusirnya termasuk dengan melempar lumpur.

Dari situlah tradisi Popokan ini jadi dasar dilakukan oleh warga. Adapun tujuannya, upacara Popokan ini orientasinya untuk menghilangkan kejahatan dan tolak bala di daerah mereka. Warga masih meletarikannya, sampai kini upacara Popokan ini masih terjaga baik hingga saat ini.

Baca juga: Adat Istiadat Minang Sumatera Barat

3. Tradisi Mendak Kematian

Tradisi-Mendak-Kematian
Sumber : BudayaJawa.id

Sekarang kita bahas suatu tradisi atau upacara yang dikenal dengan nama Mendak Kematian yang secara bahasa Indonesia memiliki makna “memperingati kematian usai satu tahun orang yang meninggal pergi”.

Kabarnya tradisi Mendak Kematian ini memiliki hubungan sangat erat dengan agama Hindu-Budha karena merupakan warisan budayanya. Sebab, jika tidak dengan memakai tradisi sebagai metode penyebaran Walisongo akan mengalami kesulitan. Sehingga tradisi ini merupakan inisiatif Walisongo yang sangat bagus dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Tehnik dalam berdakwah kepada masyarakat yang kreatif.

4. Tradisi Ruwatan

Tradisi-Ruwatan
Sumber : Blogger

Ruwatan merupakan tradisi atau upacara adat Jawa Tengah yang sebagai sarana pembebasan atau penyucian manusia dari dosa dan kesalahannya di masa lalu. Ini bisa kita ambil sebagai contohnya yaitu masyarakat sekitar Dieng Wonosobo. Sebagian anak-anak yang mempunyai rambut gimbal umumnya di juluki sebagai keturunan Buto Ijo dan segara harus dilakukan Ruwatan supaya selamat dari marabahaya. Begitulah keyakinan yang mereka miliki.

5. Tradisi Padusan

Tradisi-Padusan
Sumber : Tribunnews

Tradisi Padusan ini diperuntukkan guna menyambut Bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan suci bagi umat Islam setempat.

Padusan berasal dari kata Adus yang berarti mandi dan membersihkan diri. Padusan dilakukan dengan mandi bersama dimana warga akan mandi sekaligus mensucikan diri baik jiwa dan raga guna menyambut datangnya bulan Ramadhan dalam kehidupan mereka yang mereka jalani. Tepat yang dipakai mandi biasanya sungai yang ada didaerah tersebut.

Padusan ialah salah satu peninggalan budaya Walisongo saat menyebarkan ajaran Islam dengan mengkawinkan dengan budaya Jawa yang kala itu didominasi oleh budaya Hindu. Kreatifitas Walisongo dalam berdakwah yang patut diapresiasi oleh sejarah.

6. Tradisi Nyewu (1000)

Tradisi-Nyewu
Sumber : WordPress

Waktu 1000 hari usai kematian (nyewu) merupakan tradisi masyarakat Jawa guna memperingati kematian seseorang. Masyarakat secara bersama – sama melakukan tradisi ini. Adapun isi kegiatannya yaitu mendoakan orang yang telah meninggal seperti bacaan tahlil dan surat Yasin yang di pimpin oleh  tokoh agama dan diikuti oleh semua warga yang hadir.

Didaerah lain, biasanya berlaku untuk 7 hari sampai dengan 40 hari waktu meninggalnya seseorang.

7. Tradisi Kenduren

Tradisi-Kenduren
Sumber : Blogger

Di masyarakat dikenal juga dengan istilah Slametan selain dikena dengan istilah Kenduren. Menurut sejarah, sebelum adanya agama Islam di daerah Jawa, tradisi Kenduren merupakan kegiatan doa bersama yang di pimpin oleh tokoh agama atau ketua suku. Hanya saja pada zaman dahulu makanan sebagai sesaji dan untuk persembahannya.

Disebabkan adanya akluturasi budaya Islam dan akhirnya upacara Jawa terjadi perubahan yang sangat besar. Tadinya sejaji sebagai persembahan sudah di hilangkan dan di makan bersama setelah acara Kenduren usai.

8. Sadran (Nyadran)

Tradisi-Sadran
Sumber : Historia

Tradisi Nyadran ialah upacara yang di laksanakan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Tetapi sebelum hadirnya agama Islam, tradisi Nyadran meruapakn tradisi dari agama Hindu-Budha sebagai agama yang datang lebih dahulu. Sejak adanya Walisongo di tanah Jawa para Sunan menyebarkan agama Islam dengan menggabungkan dan meluruskan tradisi-tradisi tersebut.

Supaya mudah di terima masyarakat yang pada saat itu faktanya masih memuja-muja roh yang di dalam agama Islam itu musyrik, para sunan mengganti doa dan bacaan-bacaan Al Qur’an walaupun itu berbenturan dengan tradisi jawa. Lambat laun akhirnya bisa di terima dan diamalkan oleh masyarakat Jawa.

9. Tradisi Selikuran

Tradisi-Selikuran
Sumber : Google Image

Pada malam 21 bulan Ramadhan dalam adat Jawa meruapakan sebuah upacara/tradisi orang Jawa. Sedangkan dalam sejarah malam 21 adalah lailatul qodar. Orang Jawa umumnya melakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama. Selikur dalam bahasa Jawa mempunyai makna yang toada biasa.

Waktu untuk bermunajat kepada Allah SWT dan mendoakan orang-orang Islam yang telah mendahuluinya. Masyarakat Jawa menjadikan tradisi/adat sebagai rasa kecintaan kepada agama Islam dan Rasulullah saw. Salah satu ekspresi cinta itu dengan melakukan kegiatan tersebut.

10. Tradisi Muludan

Tradisi-Muludan
Sumber : Liputan6

Tradisi Muludan atau yang dikenal maulid nabi dalam adat Jawa mempunyai arti sebagai hari peringatan lahirnya nabi Muhammad Saw dan perayaan itu setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Pada abad ke 7 Hijriah, Sultan Muzhaffar menggelar peringatan maulid besar-besaran dan termasuk orang yang berani, alim juga adil. Nah, pada adat Jawa masyarakat umumnya mengadakan pengajian yang berisi nasehat-nasehat yang di sampaikan oleh orang alim.

11. Tradisi Kebo- Keboan

Tradisi-Kebo-Keboan
Sumber : Detik.com

Sebab Masyarakat Jawa mayoritas berprofesi petani mereka memiliki tradisi dan upacara yang unik yaitu dikenal dengan nama kebo-keboan. Kebo-Keboan adalah upacara suku Jawa untuk menolak segala bala pada tanaman yang mereka tanam, seperti tanaman padi di sawah, sayur mayur dan tanaman lain.

Melalui kebiasaan adat ini semoga tanaman mereka dapat tumbuh dengan baik dan hasil panen yang maksimal. Pada upacara ini di tandai dengan, sebanyak 30 orang menyerupai Kerbau dan akan di arak keliling kampung dan ramai disaksikan oleh warga. Mereka pun akan berjalan seperti binatang kerbau yang sedang membajak sawah.

Baca : Alat Pemotong Padi

12. Tradisi Larung Sesaji

Tradisi-Larung-Sesaji
Sumber : Solopos

Tradisi Larung Sesaji merupakan upacara yang di laksanakan masyarakat Jawa bagian pesisir Utara dan Selatan. Kegiatan ini bertujuan mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil ikan tangkapan para nelayan selama melaut. Kemudian memohon supaya selalu di beri keselamatan dan hasil yang cukup dalam usahanya.

Pergelaran kegiatan ini di tandai berbagai bahan pangan dan hewan sembelihan yang di hanyutkan ke laut dan waktu pelaksanaannya di tanggal 1 Muharram, setahun sekali.

13. Tradisi Ngapati

Tradisi-Ngupati
Sumber : Blogger

Tradisi Ngapati dilaksanakan biasanya pada saat ada seorang wanita hamil yang masa kehamilannya telah mencapai 4 bulan. Warga Jawa melaksanakan acara ini mempunyai alasan karena di usia 4 bulan janin akan diberi nyawa oleh Allah SWT sehingga orang Jawa akan mendoakannya. Selain itu, juga sebagai rasa syukur atas karunia yang telah di berikan melalui kebiasaan adat Ngapati ini.

Ketika proses Ngapati, isi dari doanya supaya kelak ketika sudah lahir akan menjadi orang yang bermanfaat dan di jauhkan dari larangan agama.

14. Tradisi Dugderan

Tradisi-Dugderan
Sumber : Okezone

Kegiatan Dugderan merupakan tradisi adat yang dilakukan oleh masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Diawali dengan pemukulan beduk yang berbunyi dug dug dug, lalu disambut dengan suara dentuman meriam yang kuat sehingga masyarakat setempat menamakannya dengan nama Dugderan. Inilah alasan namanya demikian.

Usai prosesi Dugderan selesai, kemudian digelar pawai keliling kota dimana masyarakat tumpah ruah berpakaian adat dan menyajikan aneka festival tradisonal khas Semarang yang ditujukan untuk menyambut datangnya bulan puasa yaitu Bulan Ramadhan di Kota Semarang.

15. Tradisi Siraman

Ulasan-Tradisi-Siraman
Sumber : Weddingku.com

Tradisi Siraman adalah upacara adat khas Semarang yang dimana calon pengantin wanita harus dimandikan dan disucikan dengan air bunga 7 rupa. Siraman digelar dengan cara menguyurkan dan memandikan calon pengantin perempuan agar dirinya bisa suci sebelum prosesi pernikahan digelar.

Setelah Siraman selesai umumnya calon pengantin perempuan akan dibopong oleh ayahnya atau keluarganya guna dirias untuk acara sungkeman meminta doa restu kepada pihak ayah dan ibu supaya pernikahannya berjalan dengan baik dan berkah.

16. Tradisi Nyadran

Kebiasaan adat atau Tradisi Nyadran merupakan prosesi adat khas Kota Semarang yang sering dilaksanakan oleh kumpulan masyarakat dengan cara berkumpul dan membersihkan kuburan desa secara bersama – sama. Upacara ini dilakukan pada saat bulan Ruwah tiba. Usai kuburan selesai dibersihkan, umumnya akan diadakan upacara makan bersama karena mereka telah siap membersihkan kuburan desa secara bersama – sama.

Nyadran ini juga dilaksanakan secara personal di kalangan masyarakat Jawa. Pada umumnya mereka pergi ke kuburan keluarga mereka yang lebih tua untuk membersihkan dan mendoakan mereka pada saat bulan Ruwah tiba.

17. Tradisi Wetonan (Wedalan)

Tradisi-Wetonan
Sumber : WordPress

Kebiasaat adat Wedalan/wetonan dalam bahasa Jawa memiliki arti “keluar”, namun yang di maksud di sini yaitu lahirnya seseorang. Warga setempat akan melakukan adat/upacara ini sebagai harapan supaya diberi panjang umur dan di hindarkan berbagai macam mara bahaya dimasa depan. Kemudian cita –cita sang anak bisa dengan mudah tercapai serta mendapatkan keturunan yang baik.

Baca : Pakaian Adat Jogja

Demikian informasi mengena upacara khas adat Jawa Tengah ini kami uraiakan di blog ini sehingga bisa di baca oleh Anda. Semoga apa yang kami sampaikan ini memberikan manfaat. Silahkan lakukan koreksi jika ditemukan kesalahan pada tulisan ini. Semoga tradisi Indonesia tidak hilang ditelan sejarah.  

2 comments

Silahkan berkomentar