10 Upacara Adat Khas Kalimantan Selatan dan Penjelasannya

Posted on

Upacara adat khas daerah Kalimantan Selatan (kalsel) dan gambar serta penjelasan lengkap kini dengan mudah bisa Anda temukan. Banyak media yang mengulas tentang pentingnya warga negara mengenal atau mempelajari tradisi yang ada di Kalimantan Selatan.

Upacara adat Kalimantan Selatan mecakup kebiasaan pribadi, keluarga dan sosial masyarakat. Pribadi seperti seorang pria hendak di khitan, sedangkan keluarga berkaitan dengan pernikahan dan perceraian. Sedangkan sosial masyarakat terkait dengan hajat hidup orang banyak. Dan masih banyak lagi.

Ada kebiasaan adat di Kalimantan Selatan yang sifatnya sebagai warisan sejarah dari para leluhur, ada pula yang sifatnya sebuah perkawinan antar budaya, serta ada yang hasil dari pengamalan agama yang diyakini penduduk setempat. Tidak jarang dijumpai tradisi adat yang berbaur dengan mistis pula.

Adalah kota Banjarmasin sebagai ibu kota dari Kalimantan Selatan yang memiliki jumlah penduduk mencapai 3,7 juta jiwa. Banyak hal menarik yang bisa kita eksplore dari propinsi Kalimantan Selatan, tetapi pada kesempatan ini kami akan mengeksplore upacara atau tradisi adatnya saja. Untuk kedepan akan ada penambahan lagi sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Oh iya, sebelum kami utarakan mengenai apa saja adat istiadat Kalimantan Selatan, ada baiknya dan kami rasa penting bagi Anda untuk mengetahui artikel terkait upacara adat dari daerah lain, seperti kami sudah menulis artikel upacara adat Aceh dan upacara adat Sumatera Utara. Kami juga sudah menulis topik upacara adat Jawa Timur dan upacara adat Jawa Barat serta upacara adat Jawa Tengah.

Sedangkan di pulau Kalimantan, kami sudah menulis upacara adat Kalimantan Barat yang bisa Anda baca setelah selesai membaca tulisan ini.

Oke, langsung saja kita bahas satu persatu mengenai poin per poin upacara adat Kalimantan Barat. Selamat membaca.

Kumpulan Upacara Adat Kalimantan Barat Yang Penting Diketahui

Informasi berikut ini kami dapatkan melalui berbagai sumber. Silahkan lakukan koreksi jika Anda temukan kekeliruan penulisan.

1. Tradisi Lisan Lamut

Tradisi-Lisan-Lamut
Sumber : Budaya-Indonesia.org

Tradisi Lisan Lamut yang ada di Kalimantan Selatan merupakan jenis karya sastra tradisional yang berbentuk syair, pantun, dan narasi. Pembacaan Lamut dengan alunan lagu dan diiringi dengan tabuhan tarbang. Tradisi lisan Lamut dilantunkan oleh seorang peLamut dengan memukul alat musik tradisional Indonesia yang bernama terbang (tarbang). Untuk waktu pembacaannya, tradisi lisan dibacakan semalam suntuk, mulai pukul 19.00 sampai dengan pukul 04.00 atau bisa juga dimulai sesudah shalat Isya hingga menjelang shalat shubuh.

2. Tradisi Aruh Baharin

Tradisi-Aruh-Baharin
Sumber : Kemdendikbud

Tokoh adat yang dimandatkan untuk memimpin upacara ritual, berlari kecil sambil membunyikan gelang yang terbuat dari tembaga kuningan mengelilingi salah satu tempat pemujaan sambil membaca mantra. Acara dihadiri oleh warga Dayak dari masyarakat setempat.

Kebiasaan adat ini dikenal dengan nama Aruh Baharin, yaitu pesta syukuran yang dilakukan gabungan keluarga besar yang berhasil panen padi di sawah. Pesta yang berlangsung tujuh hari ini terasa sakral karena para balian yang seluruhnya delapan orang itu setiap malam menggelar prosesi ritual pemanggilan roh leluhur untuk ikut hadir dalam pesta tersebut dan menikmati sesaji yang dipersembahkan.

3. Tradisi Mallasuang Manu

Tradisi-Mallasuang-Manu
Sumber : umm.ac.id

Mallasuang Manu merupakan upacara yang ada di Kalimantan Selatan. Kebiasaan ini ialah melepas sepasang ayam untuk diperebutkan kepada masyarakat sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil laut di Kecamatan Pulau Laut Selatan. Pelaksanaan tradisi ini digelar oleh Suku Mandar yang mendominasi kecamatan tersebut dan biasa setahun sekali tepatnya di bulan Maret. Lebih dari sehari, upacara ini digelar hampir seminggu dengan beberapa kegiatan hiburan rakyat sehingga berlangsung meriah.

4. Tradisi Basunat

Tradisi-Basunat
Sumber : Blogger

Tradisi Basunat bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan sangat penting untuk dilakukan. Keislaman seseorang belum dianggap sempurna jika orang tersebut belum bersunat. Oleh sebab itu, orang-orang Banjar sejak masih anak-anak (laki-laki berumur antara 6 – 12 tahun, dan perempuan biasanya lebih muda) telah disunat (Alfani Daud, 1997: 252).

Terasa mengganggu perasaan masyarakat setempat jika ditemukan ada pemeluk agama Islam (bersyahadat) tetapi belum disunat. Selain dilaksanakan oleh kalangan orang Islam untuk menyempurnakan keislamannya. Nah, ternyata sunat juga dilakukan oleh masyarakat lokal yang masih menganut agama Balian maupun yang beragama Kristen (ibid). Sampai tulisan ini diturunkan, belum lengkap informasi untuk menjelaskan mengapa mereka mempraktekkan sunat.

5. Tradisi Aruh Ganal

Tradisi-Aruh-Ganal
Sumber : Kumparan

Berladang bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan tidak semata-mata merupakan aktivitas ekonomi, tetapi juga aktivitas religius untuk berhubungan dengan Sang Maha Pemberi Rizqi. Penyebutan lain, bahwa aktivitas bertani yang dijalankan merupakan bagian dari religi huma.

Puncak dari tradisi ritual berladang adalah Aruh Ganal (kenduri besar), yakni pesta yang diadakan usai panen raya sebagai ungkapan syukur atas rizqi yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

6. Upacara Baayun Mulud

Baayun-Mulud
Sumber : Kumparan

Asal kata dari Baayun adalah ‘ayun’, sehingga bisa diterjemahkan bebas yaitu “melakukan proses ayunan/buaian”. Bayi yang hendak ditidurkan umumnya akan diayun oleh ibunya, ayunan ini memberikan kesan melayang-layang bagi si bayi sehingga ia bisa tertidur lelap. Dan asal kata ‘mulud’ dari sebutan masyarakat untuk peristiwa maulud Nabi.

Tempat pelaksanaan tradisi ini ialah di dalam masjid, pada ruangan tengah masjid dibuat ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid. Ayunan yang dibuat ada tiga lapis, lapisan atas digunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).

Ada aturan bagi jamaah yang hendak melibatkan anaknya, yakni setiap orang tua yang harus menyerahkan piduduk, yaitu sebuah sasanggan yang berisi paket beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak.

7. Upacara Mandi Pengantin (Badudus)

Tradisi-Badudus
Sumber : Wikipedai

Kali ini kita bahas mengenai upacara terkait dengan keluarga di Kalimantan Selatan yang bernama Upacara Badudus atau Bepapai. Tradisi ini merupakan upacara yang dilakukan pada masa peralihan antara masa remaja dengan masa dewasa. Tujuannya adalah ritual yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan raga. Bagi para calon pengantin yang akan memasuki jenjang perkawinan dinobatkan sebagai orang dewasa dan harus melalui upacara mandi pengantin (Badudus).

Tujuan lain, upacara mandi pengantin juga merupakan sarana untuk membentengi diri dari berbagai gangguan terhadap diri sendiri. Diyakini masyarakat setempat, kalau tidak dipersiapkan penangkalnya kemungkinan kedua mempelai yang akan melangsungkan pernikahan terserang penyakit yang aneh, kemudian kehidupan rumah tangganya kelak akan digoyahkan oleh berbagai macam rintangan. Intinya kebahagaian hidup rumah tangga sudah untuk diraih.

8. Tradisi Adat Maccera Tasi

Tradisi-Maccera-Tasi
Sumber : umm.ac.id

Tradisi Adat Macceratasi merupakan upacara adat masyarakat nelayan tradisional di daerah kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Kebiasaan adat ini sudah berlangsung lama ditengah masyarakat dan terus dilakukan secara turun-temurun. Untuk waktu pelaksanaannya ialah setiap setahun sekali. Upacara ini pernah digelar di Pantai Gedambaan atau disebut juga Pantai Sarang Tiung.

Prosesi Macceratasi adalah penyembelihan hewan dari jenis kerbau, kambing, dan ayam di pantai kemudian darahnya dialirkan ke laut. Adapun maksud mengaliri darah kelaut dengan memberikan darah bagi kehidupan laut. Tujuan dari digelarnya upacara ini bagi masyarakat yang tinggal sekitar pantai dan sekitarnya, mereka berharap mendapatkan rezeki yang melimpah dari kehidupan laut.

9. Tradisi Adat Mandi Tian Mandaring

Tian-Mandaring
Sumber : kesultananbanjar.id

Upacara adat ketika memperingati usia kandungan 7 bulan ternyata di Kalimantan Selatan dinamakan Upacara Mandi Tian Mandaring. Ada juga penamaan lain dengan sebutan Bapagar Mayang, atau urang banjar bemandi-mandi karena tempat mandi dalam upacara itu memakai pagar mayang. Sebenarnya, tradisi ini khusus diadakan untuk wanita hamil yang usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan.

Ketika upacara ini digelar, maka disediakan pagar mayang, yaitu sebuah pagar yang sekelilingnya digantungkan mayang-mayang pinang. Tiang-tiang pagar dibikin dari batang tebu yang diikat bersama tombak.

Di dalam pagar ditempatkan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring, dan sebuah galas dandang diisi air yang telah dibacakan doa-doa.

10. Tradisi Adat Babalian Tandik

Babalian-Tandik
Sumber : Google Image

Tradisi Adat Babalian Tandik merupakan kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh Suku Dayak selama kurang lebih 7 hari. Puncak acara digelar di depan mulut Goa dengan sesembahan pemotongan hewan qurban. Kebiasaan adar ini diakhiri dengan Upacara Badudus atau penyiraman Air Dudus. Umumnya yang didudus (disiram) semua hadirin yang ada di acara sampai basah semuanya.

Lihat : Keunikan Pakaian Adat Bali

Demikian kami sampaikan pembahasan mengenai upacara adat Kalimantan Selatan kepada para pembaca yang membutuhkannya. Semoga saja dapat menambah wawasan dan bermanfaat kepada bangsa dan negara.

Silahkan berkomentar