9 Upacara Adat Khas Kalimantan Tengah Palangkaraya dan Keterangannya

Posted on

Upacara adat khas Kalimantan Tengah merupakan bagian dari budaya Indonesia yang banyak mengandung nilai kearifan masyarakat lokal dan hidup bermasyarakat sampai sekarang. Tradisi daerah yang beribukotakan Palangkaraya ini sejatinya harus mendapat perhatian dari masyarakat setempat, lebih khsusunya dari instansi pemerintahan yang sekarang ini lagi menjabat.

Dilansir laman Wikipedia, sensus tahun 2010, provinsi Kalimantan Tengah memiliki populasi 2.202.599 jiwa, yang terdiri atas 1.147.878 laki-laki dan 1.054.721 perempuan. Kemudian, berdasarkan data BPS Kalimantan Tengah tahun 2018 menunjukkan penduduk provinsi ini tahun 2017 bertambah menjadi 2.605.274 (Laki-laki 1.361.715 jiwa dan perempuan 1.243.559 jiwa). Kalimantan Tengah mempunyai 13 kabupaten dan 1 kota. Dari data tersebut sebenarnya banyak hal yang bisa kita gali, namun pada kesempatan ini, kita akan menggali upacara adatnya saja.

Topik penulisan ini sangaat terkait dengan tulisan kami sebelumnya. Dimana kami sudah menulis tentang upacara adat Kalimantan Barat dan upacara adat Kalimantan Selatan. Usai selesai tulisan ini, maka akan ditemukan dimana benang merahnya, apakah ada kesamaan antar satu kebiasaan adat dengan kebiasaan didaerah satu pulaunya. Jika terjadi kesamaan tradisi adat, maka akan jadi menarik jika ditinjau dari aspek sejarah mengapa bisa demikian.

Baca : Rumah Adat Kalimantan Tengah

Adat istiadat Kalimantan Tengah mencakup berbagai sisi kehidupan, mulai dari tradisi yang berlaku untuk anak – anak sampai orang dewasa saat hendak melangsungkan pernikahan. Juga kebiasaan adat yang mengatur hal kematian bagi warga setempat.

Baiklah, kita akan bahas satu persatu,

Kumpulan Tentang Upacara Adat daerah Kalimantan Tengah

1.Tradisi Tarian Giring-Giring

Tradisi-Tarian-Giring-Giring
Sumber : Kamerabudaya

Tari giring-giring merupakah tarian tradisional Dayak daerah Kalimantan Tengah yang memakai tongkat sebagai atribut tari. Tarian ini mengekspresikan kegembiraan dan rasa senang masyarakat dengan cara menari dengan menggunakan tongkat sebagai media menarinya.

Kesenian tari ini ditampilkan dalam berbagai acara adat. Salah satunya pada acarah pernikahan. Pentunjukkan tari diiringi dengan suara dari alat musik tradisional Indonesia. Masyarakat tempatan dan undangan pun merasa terhibur dengan pertujunkan tersebut.

Dibeberapa kesempatan, tari ini bisa diperankan oleh anak – anak, bukan cuma orang dewasa saja.

2.Tradisi Manetek Kayu

Tradisi-Manetek-Kayu
Sumber : Blogger

Kebiasaan adat Manetek Kayu di Kalimantan Tengah mempunyai nilai yang tinggi dalam kehidupan masyarakat suku Dayak. Tradisi ini mempertontontkan kekuatan pria dayak terkait dengan kemampuan, keterampilan, dan kekuatan dalam memakai Pahera untuk bisa bertahan hidup. Persamaan lain, hal ini sama nilainya dengan kemampuan menyumpit, memainkan mandau maupun tradisi lainnya. Upacara ini adalah ritual dalam penyambutan tamu khas Dayak Kalimantan Tengah, juga terkait dengan tradisi Pantan.

Tamu yang datang bukanlah tamu sembarangan. Namun tamu yang menjadi kehormatan warga Kalteng. Maka wajar jika prosesi adat tersebut digelar.

3.Tradisi Tiwah

Tradisi-Tiwah
Sumber : Adira

Tradisi Tiwah adalah upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak. Upacara ini merupakan upacara kematian yang umumnya digelar atas seseorang yang telah meninggal dan dikubur sekian lama hingga yang tersisa dari jenazahnya dipekirakan hanya tinggal tulangnya saja.

Tujuan dari Ritual Tiwah untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa berdasarkan keyakinan masyarakat lokal.

4.Tradisi Pakanan Sahur Lewu Dayak

Tradisi-Pakanan-Sahur-Lewu-Dayak
Sumber : WordPress

Tradisi Pakanan Sahur Lewu suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) merupakan satu dari lima macam upacara ritual besar khas Suku Dayak Kalteng. Arti dari “Pakanan” ialah memberikan persembahan berupa sesajen kepada para leluhur atau orang-orang suci. Sedangkan “Sahur” memiliki arti sebagai leluhur atau dewa yang dipercaya menjaga kehidupan manusia, memberikan kesehatan, keselamatan, perdamaian, berkah dan anugerah bagi yang percaya kepada-Nya. Dan arti “Lewu” adalah kampung atau desa tempat bermukimnya suatu penduduk pada sebuah wilayah.

Biasanya upacara Pakanan Sahur Lewu dipimpin oleh tokoh Agama Kaharingan (agama orang dayak) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Basir. Meski demikian kebiasaan adat ini umumnya dilaksanakan oleh penganut Agama Kaharingan, namun memiliki tujuan juga menyengkut kepentingan orang banyak. Maka dari itu, pada saat sekarang ini, acara Pakanan Sahur Lewu juga sering melibatkan tokoh dan kelompok agama diluar agama Kaharingan.

Pakanan Sahur Lewu juga dimaksudkan sebagai wadah guna menjalin semangat persaudaraan dan kegotong-royongan antar sesama warga dan pemeluk agama di Kalimantan Tengah.

Baca : Pakaian Adat Dayak Kalimantan

5.Tradisi Adat Dayak Manyanggar

Tradisi-Adat-Dayak-Manyanggar
Sumber : Budaya-Indonesia.org

Manyanggar berasal dari kata “Sangga” yang memiliki pengertian batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak lalu diartikan sebagai ritual yang dilaksanakan manusia untuk membikin batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.

Alasan kenapa Ritual Dayak bernama Manyanggar ini oleh masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia ada juga hidup makhluk halus (diluar manusia). Dengan adanya rambu-rambu atau tapal batas dengan roh halus tersebut diharapkan supaya keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing. Selain itu, sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain.

Mereka yang hendak membuat lahan baru pertanian, biasanya akan melakukan Ritual Manyanggar ini. Atau bisa juga bagi mereka yang sedang mendirikan bangunan rumah tinggal.

Baca : Alat Pengaman Rumah

6.Tradisi Ritual Nahunan

Tradisi-Ritual-Nahunan
Sumber : umm.ac.id

Tradisi Ritual Nahunan adalah upacara memandikan bayi secara ritual menurut kebiasaan suku Dayak Kalimantan Tengah. Tujuan utama dari pelaksanaan Nahunan ialah prosesi pemberian nama sekaligus pembaptisan menurut Agama Kaharingan (agama orang dayak asli dari leluhur) kepada bayi yang baru lahir didunia.

Asal kata dari Nahunan yaitu “Nahun” yang berarti Tahun. Dapat disimpulkan, ritual ini biasanya digelar bagi bayi yang telah berusia setahun atau lebih. Prosesi ini dianggap sakral dan harus dilaksanakan bagi orang tua yang memiliki anak. Jarang sekali ada suku dayak yang melanggarnya.

7.Tradisi Ngadatun

Tradisi Ngadatu yang ada di Kalimantan Tengah ialah upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang meninggal dan terbunuh (tidak wajar) dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka. Waktu pelaksanaan ritual ini selama tujuh hari tujuh malam dengan melibatkan warga setempat.

8.Tradisi Dayak Pakanan Batu

Aneka-kumpulan-tentang-Dayak-Pakanan-Batu
Sumber : Blogger

Tradisi Dayak Pakanan Batu merupakan ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau sawah. Tujuan dari kebiasaan adat ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen.

Benda yang dituakan pada ritual dayak ini adalah batu. Keyakianan mereka menyatakan bahwa Benda ini dianggap sebagai sumber energi, yaitu menajamkan alat-alat yang digunakan untuk becocok tanam. Misalnya untuk mengasah parang, balayung, kapak, ani-ani atau benda dari besi lainnya.

Selain menghasilkan kelancaran pekerjaan, bagi mereka para pemakai peralatan bercocok tanam dan berladang, batu dianggap pula telah memberikan perlindungan bagi si pengguna peralatan sehingga tidak luka atau mengalami musibah saat membuka lahan untuk becocok tanam.

9.Mamapas Lewu

Tradisi-Mamapas-Lewu
Sumber : Borneonews

Upacara adat Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu bertujuan meminta keselamatan warga di Kalimantan Tengah. Yang gemar melakukan kebiasaan adat ini adalah masyarakat Dayak Kotawaringin Timur, terutama mereka yang memeluk kepercayaan Kaharingan. Upacara Mamapas Lewu merupakan manifestasi tatanan kehidupan dalam berinteraksi dengan komunitas sesama.

Tujuan dari kebiasaan adat ini ialah untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (petak danum) beserta segala isinya dari berbagai sengketa, bahaya, sial, wabah penyakit, untuk menciptakan suasana panas menjadi dingin dan gerah menjadi sejuk.

Tradisi ini juga bisa berkonotasi doa yang diutarakan kepada Yang Mahakuasa supaya tercipta kehidupan yang abadi di muka bumi, terhindar dari segala musibah, pertikaian, iri, dan dengki, sehingga tercipta kerukunan dan keharmonisan hidup antarumat manusia dan alam lingkungan yang saling mengisi dan menghormati.

Baca : Upacara Adat Aceh

Demikian materi tentang upacara adat Kalimantan Tengah ini kami sampaikan dikesempatan kali ini. Semoga saja memberikan manfaat kepada para pembaca yang budiman.

Silahkan berkomentar