22+ Upacara Adat Khas Jawa Barat, Sunda dan Bandung serta Keterangannya

Posted on

Upacara adat khas Jawa Barat termasuk Sunda dan Bandung disertai keterangannya merupakan informasi yang sangat penting kami sampaikan kepada pembaca. Sebagai salah satu propinsi yang mempunyai masyarakat terbanyak. Sudah pasti Jawa Barat kaya akan tradisi atau kebiasaan adat yang merupakan warisan dari nenek moyangnya pada zaman dahulu.

Ada persamaan antara bentuk upacara yang adat di Jawa Barat dengan upacara adat di Jawa Tengah. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan guna memperkuat ciri khas masing-masing daerah.

Selain pakaian adat Jawa Barat, ternyata upacara adat di ibu kotanya Bandung ini setelah kami hitung mencapai puluhan jumlahnya. Sebuah kekayaan budaya yang patut dibanggakan oleh negara Indonesia. Upacara yang ada meliputi keluarga dan masyarakat, ada untuk kepentingan bersama dan pribadi.

Keberadaannya harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah daerah, pemerintah propinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat agar dilestarikan. Jangan sampai tradisi yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun usianya hilang ditelan zaman dan dimakan sejarah. Sangat disayangkan jika hal ini bisa terjadi. Peran serta masyarakat, termasuk kami dan Anda juga tidak kalah pentingnya. Mari sama – sama kita jaga segala macam bentuk tradisi yang ada dari Sabang sampai Merauke.

Baca : Upacara Adat Aceh

Ok, tanpa berlama – lama, langsung akan kita bahas satu persatu ya.

Penjelasan Lengkap tentang Upacara Adat Jawa Barat

Dalam penyampaian uraian berikut ini, kami mengambil dari sumber online. Anda bisa menambahkah guna menyempurnakan artikel ini. Silahkan tulis pada laman komentar. Selamat menyimak!

1.Tradisi Reuneuh Mundingeun

Reuneuh-Mundingeun
Sumber : Blogger

Pada pembahasan yang pertama, nama tradisi di Jawa Barat adalah Reuneuh Mundingeun yang merupakan upacara tradisional warga Kota Bandung. Kebiasaan adat ini ditujukan kepada ibu hamil yang umur kandungannya sudah lebih dari 9 bulan, namun belum juga lahir bayi yang ada dalam kandungannya.

Adapun maksud dari adat ini ialah si ibu hamil jangan sampai meniru perilaku seekor kerbau jika hamil.

Prosesi Reuneuh Mundingeun ini dilaksanakan dengan cara membersihkan si ibu hamil dan mengaraknya keliling rumah sebanyak 7 kali. Usai diarak si ibu hamil disuruh masuk ke rumah tempat tinggalnya.

Kegiatan tersebut ditujukan pula dengan berharap supaya Tuhan Yang Maha Esa bisa segera memberikan karunianya agar si ibu hamil bisa segera melahirkan dengan mudah.

2. Upacara Ngalaksa

Ngalaksa
Sumber : Blogger

Kegiatan adat di provinsi Jawa Barat yang berikut ini adalah bernama Ngalaksa. Umumnya tradisi Ngalaksa dijumpai di daerah Ranca Kalong, Sumedang.

Prosesi adatnya, upacara ini digelar dengan membawa padi ke lumbung dengan memakai rengkong (bambu panjang berlubang buat membawa beras).

Baca : Alat Pemotong Padi

Untuk pemilihan waktu pelaksanaan, Ngalaksa digelar bulan Juni, setahun sekali. Salah satu hal unik yang ditemukan yaitu terletak dibunyi musik yang memiliki ritme sama dengan orang yang sedang berjalan, hal itu terlihat pada rengkong yang digoyang-goyang.

Tujuan daripada upacara ngalaksa ini sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen yang telah dicapai oleh masyarakat.

3. Tradisi Gusaran

Gusaran
Sumber : Blogger

Pada poin ketiga ini, menjelaskan bahwa upacara Gusaran merupakan proses upacara tradisional yang ditujukan kepada anak wanita dengan cara meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus.

Selain itu, pada kebiasaan adat ini si anak perempuan juga akan ditindik atau dilubangi telinganya lalu akan dikenakan anting – anting di daun telinganya.

Hal yang terpenting dari kegiatan ini adalah guna mempercantik diri sang anak perempuan yang bukan cuma kecantikan luar saja, tetapi kencantikan dari dalam juga.

4. Ngalungsur Pusaka

Ngalungsur-Pusaka
Sumber : Blogspot

Upacara Ngalungsur Pusaka ini umumnya dijumpai di daerah Garut. Tradisi adat ini dipimpin oleh seorang juru kunci atau kuncen yang merupakan bukti bahwa mereka masih melestarikan dan melaksanakan tradisi leluhurnya juga mensosialisasikan keberadaan benda-benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suci.

Pada kebiasaan tradisional ini, peserta upacara yang hadir dapat menyaksikan proses pencucian benda-benda pusaka itu. Benda-benda pusaka yang disucikan itu merupakan sebuah simbol konduite juga perjuangan Sunan Rohmat Kudus dalam memperjuangkan Islam ketika beliau hidup. Daerah Jawa memang menjadi daerah tempat penyebaran dakwah Islam pada zaman dahulu.

5. Kebiasaan Ngunjung/Munjung

Ngunjung
Sumber : BudayaJawa.id

Tradisi Ngunjung atau dalam kata lain Munjung berasal dari kata Kunjung, yakni mengunjungi lantas berdoa di makam leluhur atau orang tua. Kegiatan ini sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat.

Upacara ini termasuk upacara adat Jawa Barat yang umumnya dilaksanakan oleh masyarakat yang ada di daerah Indramayu, Cirebon dan sekitar daerah tersebut. Tempat upacara adat ini biasanya berlokasi di makam leluhur dan tokoh agama yang disegani dan dipercaya meiliki nilai keramat.

Adapun tujuan dari upacara ini yaitu untuk melestarikan budaya dan memohon keselamatan. Tidak sembarang waktu, ada waktu tertentu, yaitu dilaksanakan pada bulan Syuro dan Mulud atau kerap dilaksanakan sehabis panen padi.

Rangkaian kegiatan yang ada biasanya menampilkan kesenian khas, seperti wayang kulit dan dibeberapa tempat menampilkan kesenian drama sandiwara.

Tampak meriah karena dalam pagelarannya, masyarakat umumnya berbondong-bondong membawa nasi tumpeng dan makanan tradisional lainnya.

Baca : Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

6. Tradisi Bubur Asyura

Bubur-Asyura
Sumber : IDNTimes

Perlu diingat bahwa tradisi Bubur Asyura sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hari Asyura atau hari peringatan wafatnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa di Karbala.

Tradisi yang digelar masyarakat Cirebon setiap 10 Muharam ini dihubungkan dengan peristiwa Nabi Nuh as. Tetapi, pada pelaksanaanya dikaitkan pula dengan Dewi Kesuburan, yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Warga setempat memiliki keyakinan bahwa kebiasaan adat ini dapat mendatangkan kesejahteraan dan ketentraman.

Tempat dilaksanakannya dapat di bagian luar rumah salah seorang warga, bisa juga di pinggir sungai, di lapangan, atau di lokasi lain yang ditentukan oleh para pelaku upacara.

Butuh dana guna memenuhi perlengkapan buat melaksanakannya, dan berbagai perlengkapan, seperti sesajen, benda keramat, kesenian, peralatan pembuat bubur, dan tentu saja lokasi upacaranya.

Baca : Upacara Adat Sumatera Barat

7. Tradisi Ngirab atau Rebo Wekasan

Upacara-Ngirab
Sumber : UMM

Upacara adat Jawa Barat ini bernilai religius. Masyarakat di daerah Sungai Drajat, Cirebon, biasa melakukan upacara Ngirab atau Rebo Wekasan ini. Tradisi ini ditandai dengan berziarah ke petilasan atau makam Sunan Kalijaga, yang dilaksanakan pada hari Rabu – Minggu terakhir bulan Shafar.

Alasan dalam pengambilan waktu tadi sebab dianggap sebagai hari terbaik guna melenyapkan bala dan kesialan kehidupan. Ada acara lomba mendayung yang dilakukan usai upacara berakhir.

8. Upacara Nyalawean

Upacara-Nyalawean
Sumber : UMM

Upacara Nyalawean merupakan kebiasaan adat di provinsi Jawa Barat yang bersigat keagamaan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tempat pelaksanaannya adalah alun-alun Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon.

Kebiasaan ini umumnya berlangsung memakan waktu selama 5 hari dan dilaksanakan 12 hari usai acara peringatan di Keraton Cirebon. Ziarah ke makam leluhur juga dilaksanakan yang dipercaya untuk mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rahmat.

9. Kebiasaan Adat Seren Taun

Ulasan-tentang-Seren-Taun
Sumber : Infobudaya.net

Tradisi Seren Taun adalah sebuah upacara yang intinya mengangkut padi dari sawah ke lumbung dengan memakai Rengkong (pikulan khas yang terbuat dari bambu) dan diiringi tetabuhan alat musik tradisional. Jika Anda ingin menjumpai tradisi ini, bisa datang ke daerah Cigugur, Kuningan dan Sirnarasa Cisolok, Sukabumi.

Tujuan tradisi Seren Taun ini sebagai ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dikarenakan keberhasilan panen dan permohonan hasil pertanian yang lebih baik di masa panen mendatang.

Ciri khas upacara ini ada di prosesi laporan segala hasil tani yang sudah dicapai buat dapat dinikmati para pejabat yang menghadiri upacara ini. Masyarakat setempat menamakan prosesi ini dengan sebutan Seba.

10. Tradisi Ngarot

Upacara-Ngarot
Sumber : Tirto

Masyarakat setempat biasa menggelar upacara Ngarot di daerah Indramayu. Kegiatan adat ini dilaksanakan saat musim tanam dimulai atau musim penghujan.

Salah satu bentuk acaranya ialah dengan mengadakan arak-arakan ke arah bale desa. Adapun tujuan diadakannya kebiasaan adat ini ialah sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan memohon keberkahan hasil tani.

11. Tradisi Sepitan atau Khitanan

Tradisi-Sepitan
Sumber : WordPress

Upacara khitanan dilaksanakan untuk anak laki-laki berdasarkan kepercayaan Islam, yang bertujuan supaya alat vital pengantin sunat higienis dari najis dan kotoran. Umat Islam meyakini khitan adalah sunnah yang harus diterapkan karena sifatnya wajib.

Sedangkan upacara sepitan diperuntukkan pada anak perempuan ketika masih bayi.

Khitanan biasanya dilakukan saat anak berusia 6 tahun dengan mengundang mantri atau dokter. Kerap melibatkan masyarakat dari kerabat dan tetangga dekat rumah untuk turut menyaksikan.

12. Tradisi Tingkeban / Tujuh Bulan

Tradisi-Tingkeban
Sumber : WordPress

Upacara adat provinsi Jawa Barat yang berhubungan dengan kehidupan manusia lainnya ialah bernama Tingkeban. Kebiasaan adat ini diterapkan ketika seorang ibu yang sedang mengandung tujuh bulan kandungannya.

Tingkeban berasal dari kata Tingkeb yang memiliki arti Tertutup. Maksudnya, si ibu tidak diperkenankan bercampur dengan suaminya selama 40 hari usai persalinan dan sebagai tanda supaya si ibu mengurangi porsi kerjanya, sebab sedang mengandung besar.

Baca : Upacara Adat Sumatera Utara

13. Tradisi Adat Pada Pernikahan

Di Jawa Barat, ada berbagai macam upacara dalam prosesi adat pernikahan, yakni upacara yang digelar sebelum akad nikah, dan yang dilaksanakan sesudah akad nikah. Tradisi yang dilakukan sebelum akad nikah ialah Neundeun Omong, Ngalamar, Seserahan, dan Ngeuyeuk Seureuh. Kemudian, tradisi yang dilakukan pasca akad nikah ialah Mumunjungan, Sawer, Nincak Endog, buka pintu, dan huap lingkung.

Neundeun Omong merupakan kunjungan orang tua pria kepada orang tua sang wanita untuk bersilaturahmi dan menyampaikan kabar kalau si perempuan akan dilamar oleh si pria.

Ngalamar ialah kunjungan orang tua pria untuk meminang perempuan, dan membahas rencana pernikahan mereka.

Sedangkan Seserahan ialah proses menyerahkan si pria calon pengantin kepada calon mertuanya buat dinikahkan kepada si perempuan.

14. Tradisi Tembuni

Tradisi-Tembuni
Sumber : Wajibbaca.com

Tembuni merupakan upacara adat suku Sunda yang bertujuan untuk memelihara placenta bayi atau ari – ari. Hal ini dikarenakan Placenta sang bayi harus dirawat dengan sebaik – baiknya. Placenta bayi ini dipelihara dengan cara memasukkannya ke dalam kain putih dengan disertai garam, gula merah, dan asam untuk kemudian dikubur di dalam tanah di pekarangan rumah si ibu hamil.

Ada pun tujuan dari upacara Tembuni ini supaya si anak kedepannya bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bahagia tanpa ada sebuah kemalangan apapun dalam kehidupannya kelak ketika dewasa dan menikah sampai dihari tuanya.

15. Kebiasaan Adat Nenjrag Bumi

Nenjrag-Bumi
Sumber : Budayajawa.id

Nenjrag Bumi merupakan upacara khas Sunda yang sering dilakukan oleh warga Kota Bandung. Kegiatan adat ini ditujukan kepada anak bayi supaya kedepannya tidak menjadi ketakutan atau gampang kaget atas gangguan dari luar.

Nenjrag Bumi dilaksanakan dengan cara meletakkan anak bayi diatas lantai yang dibuat dari bambu yang dibelah, lalu lantai bambu tersebut diinjak dan dihentak – hentakkan sebanyak 7 (tujuh) kali. Aksi tersebut merupakan sebuah terapi untuk sang bayi agar tidak mudah kaget dan menjadi sosok pemberani.

Baca : Senjata Tradisional Jawa Barat

16. Tradisi Ekah

Tradisi-Ekah
Sumber : Blogger

Nah, jika di Jawa adalah Akekah, maka di daerah kota Bandung ada namanya Ekah. Ekah adalah tradisi adat khas Sunda dimana usai kelahiran bayi pada usia 7 hari atau 14 hari atau 21 hari, maka si orang tua wajib menyembelih kambing untuk menebus jiwa sang bayi dari Tuhan Yang Maha Esa.

Jika anaknya wanita maka kambingnya harus ada 1 ekor dan jika anaknya laki – laki maka jumlah kambingnya harus ada 2 ekor. Budaya ini ditujukan untuk mensucikan jiwa sang bayi lahir dan bathin sekaligus sebagai tanda bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia pemberian keturunan kepada kita sebagai hamba-Nya.

Saat ini, sudah banyak layanan yang menyediakan daging kambing aqiqah siap saji. Sehingga yang punya hajatan tidak lagi repot harus memasaknya. Salah satu jasa layanan aqiqah Medan yang diperuntukkan bagi warga kota Medan sendiri. Kami meyakini di Jawa Barat sudah banyak layanan serupa.

17. Tradisi Nurunkeun

Tradisi-Nurunkeun
Sumber : Budayajawa.id

Nurunkeun merupakan upacara adat khas Sunda yang diperuntukkan kepada sang anak bayi dimana anak tersebut wajib diajak keluar rumah dan mengenal lingkungan sekitar. Waktu pelaksanaan upacara Nurunkeun ini yaitu pada usia 7 hari usai bayi lahir.

Baca : Alat Keamanan Rumah

Pada prosesi upacara Nurunkeun ini, usai bayi diajak keluar halaman rumah, maka pihak keluarga wajib membuat pohon yang diatasnya digantungkan banyak mainan yang kemudian nantinya mainan – mainan tersebut akan dijadikan rebutan oleh anak – anak kecil.

18. Tradisi Cukuran

Tradisi-Cukuran
Sumber : Blogger

Cukuran merupakan prosesi pencukuran rambut anak bayi pada usia 40 hari. Tradisi Cukuran biasanya diawali dengan puji – pujian dimana sang bayi nantinya akan dipotong rambutnya sedikit demi sedikit oleh beberapa orang yang ada di sekitarnya, mulai pihak keluarga hingga sanak famili terdekat, tidak lupa juga melibatkan tetangga.

Ada pun tujuan dari upacara Cukuran ini untuk membersihkan najis pada sang bayi agar bisa bersih lahir dan bathin. Selain itu, tujuannya semoga menjadi anak yang sehat dan bahagia dalam masa tumbuh dan berkembangnya.

19. Kebiasaan Turun Taneuh

Turun-Taneuh
Sumber : Qureta.com

Turun Taneuh merupakan upacara adat yang dilaksanakan kepada sang bayi oleh pihak keluarga. Momen pelaksanaannya ialah ketika sang bayi akan menginjakkan tanah untuk pertama kalinya. Usai bayi menginjakkan tanah untuk pertama kalinya, maka setelah itu digelar sebuah prosesi sang bayi wajib memilih aneka pemberian orang tuanya seperti padi, emas, uang, dan lain – lain.

Mitos yang beredar menyatakan bahwa apa yang diambil oleh sang bayi itulah jalan hidup yang nantinya akan ditempuh oleh sang bayi. Contohnya, ketika sang bayi mengambil uang, maka diyakini sang bayi akan dimudahkan dalam proses mencari rejeki dalam kehidupannya kelak.

20. Tradisi Gusaran

Tradisi-Gusaran
Sumber : Dakwatuna

Tradisi Gusaran merupakan upacara tradisional dimana ditujukan kepada anak perempuan dengan cara meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Dalam upacara Gusaran ini si anak wanita juga akan dilubangi telinganya kemudian akan dikenakan anting – anting di daun telinganya.

Tujuan dari tradisi ini untuk mempercantik diri sang anak perempuan ketika beranjak dewasa.

21. Tradisi Pesta Laut

Tradisi-Pesta-Laut
Sumber : Blogger

Di propinsi Jawa Barat, upacara pesta bahari sering dilakukan, seperti di Pangandaran, Ciamis dan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, maupun daerah-daerah pesisir lainnya seperti Indramayu dan Cirebon. Pada penerapannya, perahu-perahu nelayan mengangkut sesajen dihiasi aksesoris warna-warni sehingga tampak indah dipandang oleh mata.

Kepala kerbau berbungkus kain putih tak lupa dibawa sebagai persembahan dan melemparkannya ke bahari sebagai simbol hadiah kepada penguasa lautan dan kabarnya untuk penolak bala. Kebiasaan ini diadakan setiap setahun sekali ini ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon keselamatan saat melaut.

Alat musik tradisional Indonesia biasanya ikut mengiringi proses kebiasaan adat ini dari awal hingga akhir.

Baca : Alat Transportasi Laut

22. Tradisi Ruwatan Bumi

Tradisi-Ruwatan-Bumi
Sumber : Tribunnews

Kegiatan adat ini dilakukan setiap bulan Februari di Kabupaten Subang. Ruwatan ini dapat pula dikatakan ngaruwat. Ngaruwat sendiri, menurut masyarakat yang mengadakannya, memiliki beberapa manfaat, seperti menjaga keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan kehidupan pertanian.

Pada pagelaran upacara ini, digelar kesenian gemyung di malam hari. Lalu pagi harinya, masyarakat mengarak Dewi Sri ke makam leluhur, diiringi oleh kuda kosong, sesepuh, membawa parupuyan, panteret buah kelapa sambil menyanyi beluk. Selain itu, acara juga diiringi oleh seni gemyung, penari yang membawa hanjuang, penari yang membawa janur, pencak silat, seni dogdog reog, genjdring, tanji, dan seluruh warga yang mengiringinya dari belakang. Upacara ini sendiri ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur, tolak bala, silaturahmi masyarakat, dan penghormatan kepada leluhur.

Baca : Pakaian Adat Jawa Barat

Demikian kami sampaikan tentang informasi upacara adat Jawa Barat untuk Anda. Semoga memberikan banyak manfaat dan bisa menjadi saran untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia dari waktu ke waktu.

Oh iya, untuk menambah bahan bacaan artikel terkait dengan upacara daerah, kami persilahkan Anda juga membaca artikel : upacara adat Lampung dan upacara adat Sumatera Selatan serta upacara adat Riau.

Silahkan berkomentar