18 Upacara Adat Khas Palembang Sumatera Selatan, Gambar & Penjelasannya

Posted on

Upacara adat khas Palembang Sumatera Selatan disertai gambar dan penjelasannya merupakan informasi yang penting untuk kita ketahui guna mengenal lebih dekat budaya nusantara. Apa yang ada di Palembang merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Maka dari itu, sebagai warga yang baik, kita wajib untuk merawatnya.

Selain terkenal sebagai daerah wisata, Palembang ternyata mempunyai tradisi atau upacara yang unik dan menarik. Seperti tradisi saat akan menikah, pria jelang dewasa dan tradisi lainnya yang terus jadi kebiasaan masyarakat setempat.

Ada baiknya, untuk mencegah punahnya tradisi di Sumatera Selatan, pemerintah menjadikannya sebagai objek wisata. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi turis dari manca negara. Sekaligus ide tersebut bisa menambah pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca : Rental Mobil Palembang

Dengan adanya sosial media, promosi upacara adat Sumatera Barat semakin mudah dan cepat serta berbiaya murah dengan fasilitas Komunikasi Dalam Jaringan. Peluang ini sangat sayang jika tidak diambil oleh pemerintah setempat, baik tingkat propinsi dan kabupaten/kota.

Artikel upacara adat Palembang ini selain berfungsi sebagai penambah wawasan pembaca juga sebagai melengkapi informasi sebelumnya. Dimana beberapa waktu yang lalu kami sudah meng-update tentang upacara adat Sumatera Barat dan upacara adat Riau serta upacara adat Sumatera Utara. Anda bisa dengan mudah membacanya nanti. Jika merasakan manfaat, jangan sungkan untuk membagikannya.

Baiklah, tanpa berlama – lama lagi, langsung kita akan masuk pada pembahasan.

Kumpulan Upacara Adat Khas Palembang Sumatera Selatan dan Gambar serta Keterangannya   

Selamat menyimak!

1. Tradisi Bebehas

Gambar terkait dengan upacara adat Palembang Sumatera Selatan yang unik dan punya ciri khas
Sumber : Indonesiakaya

Kegiatan Bebehas ialah tradisi yang dahulu kerap dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan. Bebehas dapat dimaknai dengan menjadikan beras yang tadinya padi atau kegiatan mengumpulkan beras. Kegiatan ini dahulu dilaksanakan masyarakat manakala suatu keluarga akan mengadakan hajat, seperti ingin menikahkan putra putrinya atau yang biasa disebut dengan ngantenkan.

Yang menarik, tradisi Bebehas cuma dilakukan oleh para ibu dan anak wanitanya. Kebiasaan tersebut dilakukan dengan cara bergotong-royong. Umumnya, tradisi Bebehas dibagi menjadi beberapa tahap. Pada tahap awal dilaksanakan dengan mulai memisahkan padi pada tangkainya atau yang warga setempat Muara Enim menyebutnya dengan mengirik. Usai padi dilepaskan dari tangkainya, biji padi tersebut lalu dijemur, tahap ini dinamakan dengan mengisal.

Baca : Alat Pemotong dan Pemanen Padi

2. Tradisi Ngobeng

Gambar Tradisi-Ngobeng yang terkait dengan upacara adat Palembang Sumatera Selatan yang unik
Sumber : WordPress

Kebiasaan Ngobeng di Sumatera Selatan merupakan tradisi makan bersama warisan budaya leluhur. Kebiasaan itu, sekarang mulai jarang dijumpai karena masyarakat lebih memilih menjamu tamu dengan hidangan prasmanan. Padahal, kegiatan Ngobeng sangat dalam makna yang terkandung, yaitu untuk menghargai tamu dan mempererat hubungan keluarga dan kerabat. Saat masuk rumah, tamu langsung disiapkan air untuk cuci tangan dan selanjutnya menuju hidangan.

Pada satu hidangan tersedia dengan menu yang beraneka ragam yang biasanya akan disantap oleh sebanyak delapan orang. Umumnya, nasi minyak ialah santapan utama yang dilengkapi dengan opor ayam, gulai kambing dan daging sapi masak malbi. Ada kalanya ditambahkan acar dan tumisan buncis yang diberi santan serta sambal nanas. Tidak sampai disitu saja, makanan penutupnya adalah srikaya, yang dibuat dari campuran telur, santan dan gula yang diberi pewarna dari perasan daun suji. Enak tenan!

3. Tradisi Sedekah Rame

Gambar terkait Tradisi Sedekah Rame yang merupakan bagian dari upacara adat Palembang Sumatera Selatan
Via : Sumber.com

Kegiatan Sedekah Rame yang berlaku merupakan upacara adat Palembang Sumatera Selatan yang dilakukan oleh masyarakat yang bekerja sebagai petani. Tradisi Sekedah Rame ini dilakukan bertujuan meminta perlindungan dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa supaya proses menanam padi hingga panen berjalan dengan lancar dan memberikan keuntungan secara ekonomi.

Teknisnya, Sedekah Rame ini dilaksanakan dengan cara membakar kemenyan dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya berkenan memberkati proses penanaman padi mereka hingga nantinya masa panen tiba.

4. Tradisi Pemakaman

Gambar Tradisi-Pemakaman sebagai salah satu upacara adat Palembang Sumatera Selatan
Sumber : Sindo

Kegiatan Pemakaman ialah upacara dimana orang meninggal harus dimandikan, dirawat, dikafani hingga akhirnya dikuburkan. Nah, acara pemakaman merupakan salah satu upacara adat Palembang yang dimana pihak yang meninggal akan mengadakan pemandian jenazah hingga diberikan kain kafan.

Usai dikafani maka, dan sebelum dikuburkan, pihak yang meninggal akan didoakan terlebih dahulu. Pada momen ini biasanya banyak tangis haru pilu dimana pihak keluarga yang ditinggalkan memang merasa sangat sedih.

5. Tradisi Madik

Tradisi-Madik
Sumber : Blogger

Asal kata Madik dari bahasa Jawa Kawi yang mempunyai arti “mendekat” atau “pendekatan”. Madik ialah suatu proses penyelidikan atas seorang gadis yang dilakukan oleh utusan pihak keluarga pria.Tujuannya untuk perkenalan, mengetahui asal usul serta silsilah keluarga masing-masing serta melihat apakah gadis tersebut belum ada yang meminang. Jika sudah ada pria yang meminang, maka harus mencari gadis lainnya lagi.

Dalam ajaran Islam dikenal istilah Taaruf. Yaitu sebuah kegiatan yang dilakukan seorang pria yang hendak menikah dengan seorang wanita. Jika proses taaruf lancar, maka selanjutnya menentukan waktu tanggal pernikahan. Biasanya jarak antara taaru dengan waktu pernikahan tidak terlalu lama.

Baca : Rumah Adat Sumatera Selatan

6. Tradisi Menyengguk

Kegiatan Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang mempunyai makna yaitu memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain). Tradisi ini dilakukan apabila proses Madik berhasil, untuk menunjukkan keseriusan, keluarga besar pria mengirimkan utusan resmi kepada keluarga si gadis. Utusan pun membawa Tenong atau Sangkek terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat atau segi empat berbungkus kain batik bersulam emas berisi makanan, dapat juga berupa telor, terigu, mentega, dan sebagainya sesuai keadaan keluarga si gadis.

7. Tradisi Ngebet

Nah, apabila proses sengguk telah mencapai sasaran yang diinginkan, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa Tenong sebanyak 3 buah, yang masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Momen pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria. sebagai tanda ikatan, utusan pria memberikan bingkisan pada pihak wanita berupa kain, bahan busana, ataupun benda berharga berupa sebentuk cincin, kalung, atau gelang tangan.

Pada titik ini, biasanya kedua belah pihak tinggal tentukan hari pernikahan saja.

8. Tradisi Berasan

Berasal dari bahasa Melayu, Berasan artinya bermusyawarah, yakni bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria. Pada kesempatan itu, si gadis berkesempatan diperkenalkan kepada pihak keluarga pria.

Umumnya suasana Berasan ini penuh dengan pantun dan basa basi. Usai jamuan makan, kedua belah pihak keluarga telah bersepakat tentang segala persyaratan perkawinan baik tata cara adat maupun tata cara agama Islam. Di waktu itu pula ditetapkankapan hari berlangsungnya acara “mutuske kato”.

9. Tradisi Mutuske Kato

Uraian-terkait-Mutuske-Kato
Sumber : Blogger

Kegiatan ini memiliki tujuan kedua pihak keluarga membikin keputusan dalam hal yang berkaitan dengan: ”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib. Guna menentukan hari pernikahandan acara Munggah, lazim dipilih bulan-bulan Islam yang dipercaya memberi barokah bagi kedua mempelai kelak yakni bulan Robiul Awal, Robiul Akhir, Jumadilawal, Jumadilakhir.

Bulan-bulan tersebut konon dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa bulan purnama sedang cantik-cantiknya menyinari bumi sehingga cahayanya akan menjadi penerang kehidupan bagi kedua mempelai secerah purnama. Ketika ‘mutuske kato’ rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan.

10. Tradisi Nganterke Belanjo

Pada prosesi Nganterke Belanjo umumnya dilakukan sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah. Kegiatan ini lebih banyak dilakukan oleh kaum wanita, sedangkan dari pihak pria cuma mengiringi saja.

Duit belanja (duit belanjo) kemudian dimasukkan dalam ponjen warna kuning dengan atribut pengiringnya berbentuk mirip buah manggis. Hantaran dari pihak calon mempelai pria ini juga dilengkapi dengan nampan-nampan paling sedikit 12 buah berisi aneka keperluan pesta, seperti terigu, gula, buah-buahan kaleng, hingga kue-kue dan jajanan. Tidak sampai itu saja, ada juga diantar pula ’enjukan’ atau permintaan yang telah ditetapkan saat Mutuske Kato, yakni berupa salah satu syarat adat pelaksanaan perkawinan sesuai kesepakatan.

Baca : Tarian Daerah Sumatera Selatan

11. Tradisi Ngocek Bawang

Ngocek-Bawang
Sumber : Blogger

Kebiasaan Ngocek Bawang diistilahkan untuk melakukan persiapan awal dalam menghadapi hari Munggah. Pada memasangan tapup dan persiapan bumbu-bumbu masak serta lain sebagainya disiapkan pada hari ini. Ngocek bawang kecik ini dilaksanakan dua hari sebelum acara Munggah.

Kemudian pada esok harinya sehari sebelum Munggah, dilaksanakan acara Ngocek Bawang besak. Semua persiapan berat dan perapian segala persiapan yang belum selesai dikerjakan pada waktu ini. Daging, ayam dan lain sebagainya disiapkan saat Munggah, mengundang (ngulemi) ke rumah besannya, dan si pihak yang di ulemi pada masa ngocek bawang wajib datang, biasannya pada masa ini diutus dua oarang yaitu wanita dan pria.

12. Tradisi Munggah

Uraian-Tradisi-Munggah
Sumber : Silontong

Tradisi Munggah merupakan puncak rangkaian acara pernikahan adat di Palembang. Hari munggah umumnya ditetapkan pada hari libur diantara sesudah hari raya Idul Fitri & Idul Adha. Saat pagi hari sebelum acara, dari pihak mempelai wanita datang ke pihak laki-laki (ngulemi) dengan mengutus satu pasang lelaki & wanita.

Selain melibatkan banyak pihak keluarga kedua mempelai, acara juga dihadiri para tamu undangan. Munggah memili arti agar kedua pengantin menjalani hidup berumah tangga selalu seimbang atau timbang rasa, serasi dan damai.

Tempat untuk dilaksanakan acara Munggah yaitu dirumah kediaman keluarga pengantin wanita. Sebelum prosesi Munggah dilakukan terlebih dahulu dibentuk formasi dari rombongan pria yang akan menuju kerumah kediaman keluarga pengantin wanita.

13. Tradisi Kumpulan Rudat dan Kuntau

Pada pengantin Pria diapit oleh kedua orang tua, dua orang pembawa tombak, seorang pembawa payung pengantin, didampingi juru bicara, pembawa bunga langsih dan pembawa ponjen adat serta pembawa hiasan adat dan gegawan.

14. Tradisi Nyanjoi

Nyanjoi
Sumber : plesiryuk.com

Kegiatan Nyanjoi dilaksanakan disaat malam sesudah munggah dan sesudah nyemputi. Umumnya, Nyanjoi dilakukan sebanyak dua kali, yaitu malam pertama yang datang Nyanjoi rombongan muda-mudi, malam kedua orang tua-tua. Demikian juga pada masa sesudah nyemputi oleh pihak besan lelaki.

15. Tradisi Nyemputi

Nah, dua hari usai munggah umumnya dilakukan acara nyemputi. Pihak pengantin lelaki datang dengan rombongan menjemputi pengantin untuk berkunjung ketempat mereka, sedangkan dari pihak wanita sudah siap rombongan untuk nganter ke pengantin. Pada masa nyemputi penganten ini di rumah pengantin lelaki sudah disiapkan acara keramaian (perayaan). Perayaan yang dilakukan untuk wanita-wanita pengantin ini baru dilakukan pada tahun 1960-an, sedangkan sebelumnya tidak ada.

16. Ngater Penganten

Ketika masa nganter penganten oleh pihak besan lelaki ini, di rumah besan wanita sudah disiapkan acara mandi simburan. Mandi simburan ini dilaksanakan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita.

Malam perkenalan ini merupakan selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu wanita yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan acara demi acara disaat pelaksanaan perkawinan. Wanita tunggu jeru ini dapat berfungsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan berlangsungnya seluruh acara perkawinan yang kemungkinan akan ada gangguan dari orang yang tak senang.

17. Bekarang Iwak

Bekarang-Iwak
Sumber : Anterosumsel

Tradisi Bekarang Iwak ialah upacara adat kecamatan Gandus, di daerah Palembang, dimana dalam proses upacara ini warga akan bersama – sama menangkap ikan guna dibawa pulang secara gratis. Arti Bekarang ialah menangkap sedangkan Iwak berarti ikan.

Nantinya ikan – ikan yang berukuran besar akan dijual oleh pemangku adat dimana uang hasil penjualan ikan – ikan besar tadi akan dipakai untuk kepentingan umum seperti membangun jalan dan jembatan. Bekarang Iwak diadakan setahun sekali di Palembang.

18. Tradisi Sunatan

Sunatan ialah proses dimana anak laki – laki yang umurnya sudah mencapai dewasa akan dibersihkan alat kelaminnya guna kesuciannya dan sebagai simbol kedewasaan bagi dirinya di hadapan keluarga dan masyarakat.

Sunatan sendiri merupakan ajaran Agama Islam yang mewajibkan setiap anak laki – laki harus dibersihkan alat kelaminnnya sebelum mereka berusia dewasa. Sunatan merupakan salah satu rangkaian upacara adat yang ada di Palembang yang masih terjaga hingga sekarang ini.

Baca : Alat Musik Tradisional Indonesia

Kami sudahi dahulu ulasan mengenai upacara adat Palembang Sumatera Selatan dan gambar serta penjelasannya ini. Semoga memberikan banyak manfaat kepada bangsa dan negara. Silahkan tinggalkan komentar Anda pada kolom dibawah ini.

Silahkan berkomentar