13 Upacara Adat Khas Sumatera Utara, Gambar dan Keterangannya

Posted on

Upacara adat Sumatera Utara (Sumut) dan keterangannya merupakan bagian informasi yang penting diketahui guna memperluas wawasan nusantara. Tradisi yang masih ada, beberapa masih bisa dijumpai oleh kita. Namun sangat disayangkan, pelan – pelan ada tradisi yang sudah hilang dari masyarakat Sumut. Dampak globalisasi memang menjadi salah satu faktor dari faktor lainnya.

Medan adalah ibukota Sumatera Utara. Medan menjadi daerah yang terbuka oleh semua suku. Klaim bahwa kota Medan mayoritasnya adalah suku Melayu atau Batak, kini sudah berubah. Justru warga suku Jawa yang kini mendominasi.(Baca : Adat Istiadat Melayu)

Selain bahas destinasi wisata Danau Toba, rasanya tidak kalah penting kita juga bahas tentang tradisi yang ada di Sumut. Masing – masing suku mempunyai ciri khas tradisi yang harus kita ketahui bersama. Dari mulai upacara yang mengandung mistis sampai yang sarat dengan agama, semua ada lengkap di Sumatera Utara. Kebanyakan upacara yang tumbuh di tengah masyarakat merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Sebut saja dengan tradisi Mandi Balimo yang hampir setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan dilakukan oleh umat Islam di Sumatera Utara.

Tidak tahu kapan upacara di Sumut bisa bertahan. Yang pasti tugas kita sebagai warga negara harus melestarikannya sampai kapan pun juga. Meski tidak mudah, jika dikerjakan dengan sinergitas antara pemerintah dengan rakyat, maka bukan cuma budaya Sumut saja, budaya daerah lain juga akan semakin terjaga eksistensinya.

Macam – macam Upacara Adat Khas Sumatera Utara dan Keterangannya

Prediksi kami menyatakan bahwa ada ratusan upacara yang ada di Sumatera Utara. Kami tidak yakin hanya belasan saja jumlahnya. Karena keterbatasan waktu dan bidaya, maka pada saat ini kami sajikan yang berhasil kami kumpulkan saja. Kedepan akan dilakukan pembaharuan informasi mengenai upacara atau tradisi khas Sumatera Utara ini.

Selamat menyimak!

1. Tepuk Tepung Tawar

Tepung-Tawar-Budaya-Sumut
Sumber : Google Image

Tepuk Tepung Tawar merupakan salah satu bagian prosesi yang sakral dalam upacara adat budaya Melayu. Warga yang bersuku Melayu sangat banyak ditemukan di kota Medan dan Sumatera Utara. Bahkan kerajaan Melayu banyak meninggalkan situs sejarah, salah duanya adalah Istana Maimun dan Masjid Raya Al Ma’sum.

Kini, tradisi Tepuk Tepung Tawar masih lestari di tengah – tengah masyarakat Sumatera Utara. Kegiatan ini dilakukan dalam berbagai macam acara, seperti pernikahan, khitan, syukuran mau berangkat haji dan lain – lain.

Kegiatan adat ini memberikan dampak ekonomi kepada pelaku usaha setempat. Mereka yang bergerak dibidang jual bunga terbantu dengan tradisi tersebut.

2. Tradisi Punggahan

Tradisi Punggahan
Sumber : Hetanews

Berkumpul di masjid guna menyambut bulan suci ramadhan adalah kebiasaan umat Islam di Sumatera Utara setiap setahun sekali. Jamaah yang hadir biasanya membawa makanan masing – masing. Kemudian makanan tersebut ditukar dengan makanan dari jamaah lain secara acak. Akhirnya masing – masing jamaah membawa makanan yang berbeda dengan dibawanya ketika datang. Saling tukar makanan ini diharapkan menimbulkan rasa cinta antar umat Islam sehingga ukhuwah Islamiyah semakin kuat.

Acara punggahan ini biasanya diisi dengan acarah tausyiah dan kajian dari seorang ustadz yang di undang. Atau ada juga dipadukan dengan acara lainnya, seperti pawai obor atau perlombaan adzan dan hafal surat pendek untuk remaja masjid dan anak-anak.

3. Upacara Mangokal Holi

Upacara-Mangokal-Holi
Sumber : Sportourism

Tradisi ini memakan biaya yang tidak sedikit. Tidak semua warga Sumut bisa melakukannya. Hanya orang – orang tertentu saja, pengusaha atau pejabat yang punya dana berlebih.

Upacara Mangokkal Holi yaitu mengambil tulang belulang dari leluhur mereka dari dalam kuburan. Kemudian ditempatkan di dalam peti, dan diletakkan dalam buah bangunan tugu khusus untuk menyimpan tulang belulang leluhur.

Rangkaian acara juga di padukan dengan memotong hewan ternak dan umumnya acara dilaksanakan hingga beberapa hari, lebih dari satu hari. Mereka yang masih fanatik dengan kesukuannya selalu melaksanakan kebiasaan ini, yaitu semua etnis Batak (Toba, Simalungun, Karo).

4. Upacara Mandi Balimo

Upacara-Mandi-Balimo
Sumber : Blogger

Lain acara Punggahan, lain juga acara Mandi Balimo. Kebiasaan ini merupakan upacara pembersihan badan sebelum bulan suci Ramadhan yang dirindukan telah tiba. Sebelum bulan Ramadhan tiba, warga Kota Medan secara khusus dan warga Sumut secara umum mengadakan prosesi Mandi Balimo dengan cara mandi guyuran air yang telah dicampur rempah – rempah. Aroma khas tradisional terasa di hidung pasca mereka melakukan Mandi Balimo.

Umumnya mereka menggunakan perasan Jeruk Purut yang kemudian airnya akan diguyurkan ke seluruh tubuh mereka. Mandi Balimo memiliki tujuan supaya umat Islam bisa membersihkan tubuh dan jiwa mereka dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Sebagian masyarakat masih melestarikan tradisi ini meski ancaman globalisasi terus terjadi.

5. Upacara Mangirdak

Tradisi-Mangirdak
Sumber : deskgram

Mangirdak merupakan tradisi atau upacara adat pemberian semangat kepada ibu hamil ketika usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan. Kebiasaan Mangirdak dilakukan dengan cara mengunjungi dan mendatangi ibu hamil 7 bulan tersebut dengan membawa oleh – oleh atau makanan.

Keselamatan sang bayi dan ibu merupakan harapan dari kegiatan ini. Tidak sedikit orang hamil dan kemudian tidak melahirkan secara sempurna. Dengan kegiatan ini, kejadian yang tidak diharapkan dapat dihindarkan dengan izin Allah Swt.

6. Upacara Mangulosi

Upacara-Mangulosi
Sumber : Busy.org

Upacara Pemberian Ulos Tondi ialah kebiasaan yang dilakukan guna menyambut kedatangan sang bayi yang baru lahir di kepercayaan masyarakat Batak. Kegiatan ini dilakukan oleh atau kepada ayah dan ibu sang bayi.

Pada Upacara Pemberian Ulos Tondi ini sang ayah dan ibu akan diberikan kalungan kain ulos yang merupakan kain khas Batak sebagai penghormatan dan rasa syukur mereka kepada keluarga yang telah dikaruniai anak bayi guna meneruskan keturunannya di masa yang akan datang. Warga Medan masih menganggap acara Upacara Pemberian Ulos Tondi ini masih sakral keberadaanya. Tidak sedikit dari mereka yang masih terus melestarikannya sampai keanak cucu.

7. Martutu Aek

Tradisi-Martutu-Aek
Sumber : Gosumut

Upacara Martutu Aek merupakan proses pemandian dan pemberian nama kepada anak di masyarakat Batak. Dimana anak akan disucikan dan didoakan agar sang anak mendapatkan keberkahan dan nasib mujur dimasa depan.

Ketika usia anak menginjak 7 hari setelah hari kelahirannya anak bayi wajib dimandikan di pancuran air. Usai itu anak bayi akan diberkati oleh sesepuh adat dimana sesepuh adat ini wajib memberikan rekomendasi nama yang nantinya diharapkan bisa mendatangkan nasib baik dan mujur bagi kehidupan sang anak.

Sebagian masyarakat Batak yang beragama Islam sudah tidak melaksanakan tradisi ini. Karena didalam ajaran Islam sudah ada ajaran untuk anak yang baru lahir.

8. Upacara Mangharoan

Mangharoan merupakan upacara adat tradisional usai 2 minggu umur kelahiran si anak bayi pada kepercayaan masyarakat Batak. Dalam upacara Mangharoan ini akan dilaksanakan perjamuan makan bersama yang dilakukan oleh pihak keluarga dengan para tetangga.

Di dalam upacara Mangharoan ini si ibu dari si anak bayi akan diberikan asupan makanan yang diharapkan bisa memperlancar suplai air susunya kepada si anak. Tujuan acara ini mendekatkan diri secara lebih antara si anak dengan si ayah dan ibunya agar keterikatan mereka bisa terjaga dengan baik untuk ke depannya.

9. Upacara Marhajabuan

Uraian-tentang-Marhajabuan
Sumber : deskgram

Upacara Marhajabuan merupakan tradisi acara pesta pernikahan yang wajib dilakukan oleh mayoritas warga Batak di kota Medan. Acara ini dilakukan dengan mengundang kerabat, tetangga maupun tamu undangan. Secara adat Batak, kebiasaan adat ini wajib dilakukan, jadi pasangan yang menikah bukan hanya sebuah prosesi di gereja atau ijab kabul saja.

Kemudian, para pasangan pengantin ini wajib berbagi kebahagiaan dengan yang lain lewat sebuah pesta pernikahan. Pada prosesi Marhajabuan ini, kedua pasangan pengantin akan diberikan pengalungan kain ulos sebagai simbol penghormatan.

10. Upacara Martilaha

Kematian bagi warga Batak sifatnya sangat sakral. Martilaha ini akan dilakukan jika pihak yang meninggal adalah seseorang yang meninggal namun belum menikah dan memiliki anak sama sekali.

Martilaha ialah sebuah prosesi upacara adat yang sakral yang masih terjaga keberadaannya hingga saat ini. Menurut keyakian suku Batak, dengan acara ini, arwah bisa mendapat ketenangan di akhirat kelak.

11. Upacara Mate Mangkar

Info-Mate-Mangkar
Sumber : Blogger

Mate Mangkar merupakan prosesi upacara adat kematian khas warga Batak. Syarat mereka yang melakukan acara ini ialah bagi mereka suami atau istri yang belum memiliki keturunan sama sekali. Mate Mangkar ini dilakukan dengan khidmat dan sakral dimana keluarga yang ditinggalkan wajib melepas kepergian suami atau istri yang telah meninggal dunia agar arwahnya bisa tenang dan diterima dengan baik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Singkatnya, acara ini merupakan sebuah penghormatan kepada pihak yang meninggal dan keluarga yang telah ditinggalkan oleh pihak yang meninggal dunia.

12. Tarian Sigale-gale di Danau Toba

Sigale – Gale merupakan boneka kayu menyerupai manusia, dan umumnya patung ini berada di rumah adat Batak Desa Tomok, Danau Toba. Pergerakan boneka ini dimainkan oleh seorang manusia yang berada di belakang patung Sigale-gale. Kabarnya, tarian sigale-gale merupakan ritual memanggil arwah Sigale-gale, sehingga boneka itu bisa menari-nari dengan iringi musik adat Batak.

Sembari waktu berjalan, tarian boneka kayu ini menjadi daya tarik wisata bagi para turis. Menurut legenda masyarakat suku Batak, Sigale-gale ialah putra tunggal kesayangan dari raja Rahat. Sigale-gale meninggal disebabkan sakit. Raja pun merasa sangat kehilangn anaknya, lalu demi mengobati kesedihan raja, dibuatlah sebuah boneka kayu yang menyerupai Sigale-gale.

Bagi yang ingin melihat patung Sigale – Gale, silahkan melihat menu tawaran paket wisata Medan dari agen travel yang profesional di kota Medan.

13. Hombo Batu (Lompat Batu)

Tradisi-Hombo-Batu
Sumber : WordPress

Hombo Batu atau bahasa populernya Lompat Batu merupakan sebuah ritual yang berasal dari Desa Bawo Mataluo Nias, Kabupaten Nias Selatan. Desa ini kaya dengan situs megalitik atau batu besar berukir, dan di dalamnya terdapat Omo Hada yaitu perumahan tradisional khas Nias. Mereka yang meriahkan tradisi ini adalah para pemuda suku Nias.

Tujuan dari tradisi ini untuk menentukan apakah seorang pemuda sudah dewasa dan telah memenuhi syarat untuk menikah atau belum. Para pemuda akan melompati batu yang tingginya lebih dari 2 meter, melalui sebuah batu kecil untuk pijakan ketika melompati batu. Sebelum melompati batu, biasanya ada ritual khusus dilakukan, dengan memakai pakaian adat khas Sumatera Utara, mereka akan bersemangat agar bisa melompati batu.

Baca : Alat Musik Nias

Akhirnya selesai sudah informasi mengenai upacara adat khas Sumatera Utara ini kami sampaikan untuk para pembaca yang budiman. Semoga apa yang kami sajikan ini memberikan banyak manfaat dan sebagai sarana melestarikan budaya bangsa dari masa ke masa.

Untuk menambah wawasan dan sebagai bahan perbandingan (studi komparatif), kami sudah menulis artikel upacara adat Aceh beberapa waktu yang lalu. Kami sarankan Anda untuk membacanya.